11 S Indonesian Habits(1)

10 07 2008

Mark Moxon, seorang traveler sekaligus travel writer yang pernah mengunjungi Indonesia pada tahun 1997 menulis sebuah ebook yang berisi pengalamannya melancong selama 2 bulan di negeri ini. Ebook ini diterbitkan pada tahun 2004, dengan judul yang menurut saya cukup menarik perhatian(awalnya saya gak minat tuh baca pengalamannya di Indonesia, tapi melihat judulnya kok…tergoda juga ya…?): Hello Paul, What’s Your Name? Travels in Indonesia. Ebooknya ditulis dengan gaya yang asyik, lucu, namun tetap objektif.

Menurut saya ada satu tulisan yang cukup menarik dari ebook ini, yang menjabarkan kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia dilihat dari sudut pandang seorang traveler yang hanya 2 bulan berkeliaran di sini. Jadi, marilah kita tengok kebiasaan-kebiasaan kita…..

Indonesian Habits

Written: 30 September 1997

Orang Indonesia benar-benar mengagumkan. Perbedaan antara budaya barat dan timur kadangkala sangat besar, kadang kecil sekali. Saya menantang siapa pun untuk mendefinisikan mentalitas orang Asia, sebagaimana saya menantang siapa pun untuk mendefinisikan mentalitas barat. Satu hal yang pasti: terlepas dari beberapa orang jahat, orang Indonesia adalah orang-orang baik, selalu baik hati, penuh perhatian, tertarik dan rela bercakap-cakap. Ya, ketika si pelancong kesepian sedang lelah dan menginginkan sedikit kedamaian, orang Asia yang terlalu tekun dengan segera menjadi tidak menyenangkan, tetapi dibandingkan dengan orang-orang barat, orang Indonesia benar-benar ramah, melebihi keharusan.

Maka disini terdapat sebuah kesimpulan singkat nilai-nilai orang Indonesia, berdasarkan pengamatan semata. Silakan mengambilnya dengan sedikit penekanan: saya bukanlah seorang antropologis. Selamat datang di Sebelas S:

1. Smoking

Orang Indonesia merokok dalam jumlah yang luar biasa, dan dari yang ditunjukkan, oleh orang Indonesia tentunya, sama sekali tidak ada aturan atau batasan hingga menjadi sebuah kebiasaan nasional untuk bisa tidur hampir di mana pun. Anda dapat merokok di mana pun dan puntungnya jatuh ke lantai, keluar dari jendela mobil, dimana pun: tidak mengejutkan bagi saya untuk mengetahui bahwa, ketika saya sampai di Indonesia, terdapat kebakaran-kebakaran kecil di Kalimantan dan Sumatra, karena saat cuaca kering(sementara waktu itu merupakan tahun bertiupnya El-Nino) hanya membutuhkan 1 puntung rokok yang dibuang sembarangan untuk mencetuskan sebuah bencana. Dan tidaklah kurang banyaknya puntung rokok yang terbang keluar dari jendela mobil di Indonesia.

Merokok benar-benar murah, setidaknya berdasar standar Eropa. Satu pak rokok Amerika (sebagai lawan dari kretek, rokok cengkeh yang sangat disukai penduduk lokal) harganya 850 rupiah, atau sekitar 18 penny, jadi untuk merokok sebanyak yang dilakukan setiap orang tidak perlu memoroti kantong. Apalagi, tanpa merokok tidak akan mungkin ada kebiasaan selanjutnya…

2. Spitting

Ah ya, merokok dan meludah, dua kegemaran orang Indonesia yang saling berkaitan. Mengikuti asap rokok yang berbau manis adalah cerita lama: berawal sebagai batuk, racun paru-paru hitam yang membuat kita benar-benar menyadari efek tar terhadap pembuluh-pembuluh pernapasan. Ini diikuti dengan bunyi berat membersihkan tenggorokan yang bahkan Oxford English Dictionary tidak dapat menuliskannya menggunakan huruf-huruf alfabet Latin, dan kemudian muncullah kata yang tak terelakkan, spit. Hal ini agak jorok, dan bersama dengan merokok, tidak ada aturan sosial yang mengatur cara meludah: meludah itu sah di manapun, kapan pun.

Dan ini bukan hanya pekerjaan laki-laki, lainnya: perempuan meludah banyak, pula. Sebuah bonus tambahan adalah akibat dari buah pinang, yang dikunyah oleh banyak orang Indonesia secara terus-menerus, memerahkan bibir mereka dan memberi warna pada ludah yang akan membuat Jackson Pollock bangga. Sebagian besar kebiasaan ini merupakan kebiasaan di pedesaan, mengunyah buah pinang, dan ini bagus: jika setiap orang di kota mengunyah buah pinang, maka saluran pembuangan akan berwarna merah.

3. Staring

Ya, seiring dengan bus Anda lewat melalui desa-desa kecil di pedesaan Indonesia, orang-orang hanya duduk dan membiarkan rahangnya menganga. Anak-anak kecil bergerumbul keluar rumah untuk melihat kotak aneh berkilau yang berderum sepanjang jalan…hal itu aneh. Dan jika anda seorang pelancong berkeliling ke sebuah desa kecil di antah berantah, setiap orang menatap anda, seakan-akan mereka menunggu anda untuk melakukan sesuatu yang aneh.

Tetapi hal ini bukan kekasaran atau ketidaksopanan, hanya saja penduduk lokal sedang tertarik melihat sesuatu yang tidak biasa dan berbeda. Sebelum terlalu lama mereka akan berbicara pada Anda dan mencoba untuk mengenal Anda, dan inilah saat di mana Anda dapat mempelajari bahasa dengan mudah—meskipun beberapa patah kata dari orang Indonesia dapat membuat hal-hal lebih menarik, seiring dengan berubahnya aktivitas menatap menjadi percakapan.Tetapi sungguh sangat aneh untuk ditatap sepanjang waktu, percayalah…

4. Sleeping

Pengamatan ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa orang Indonesia malas: jauh dari itu. Faktanya, saya tidak pernah melihat kelompok orang yang begitu pekerja keras dalam hidup saya. Bangun pada saat fajar menyingsing dengan panggilan ibadah Muslim jam 4 pagi, bekerja keras dalam pekerjaan yang akan membuat orang barat bingung dan terganggu…mereka adalah sebuah bangsa yang secara mengejutkan benar-benar teliti dan hati-hati. Akan tetapi dengan beban fisik ini datanglah sebuah kebutuhan untuk tidur yang meningkat.

Hal yang luar biasa tentang orang Indonesia dan tidur mereka adalah bahwa mereka dapat tidur benar-benar di mana pun. Di dalam bus, di jalan, berdiri, duduk: menutup mata kelihatannya bukan masalah dalam dunia ini dan insomnia. Saya telah melihat orang-orang benar-benar tidur, berbaring di tikar alang-alang tipis dan mendengkur dalam cara yang tidak akan dapat dilakukan seorang laki-laki berkulit putih; saya melihat lelaki-lelaki bersandar dalam becak kecil mereka di kota-kota, mengambil beberapa menit istirahat setelah meluncur berkeliling jalanan sempit, kaki dan lengan terjulur dari ruangan amat kecil seperti seekor gurita dalam ember; saya melihat orang terkantuk-kantuk salam bus dengan sentakan yang akan mennyaikiti tulang punggung akan membuat manusia normal tetap terjaga untuk 3 hari berikutnya; ya, bakat orang Indonesia adalah mampu untuk meraih kesempatan tidur kapan pun di mana pun, sebuah kecakapan yang dapat kita semua gunakan.





Who The Hell Is Herman?

13 06 2008

Sebuah cerita lucu dalam buku otobiografi Richard Feynman:

Suatu saat, si pengarang dihubungi seorang teman lama melalui sambungan jarak jauh yang membawa kabar: “Richard, aku punya kabar buruk untukmu. Herman meninggal.”

Richard Feynman, yang kesulitan mengingat nama dan merasa tidak enak, sehingga reaksinya adalah: “Oh?” mencoba untuk serius dan tenang, namun berkata pada diri sendiri “Who the hell is Herman?”

Si teman lama berkata bahwa Herman dan Ibunya telah meninggal dalam kecelakaan mobil di dekat LA, dan upacara pemakamannya akan diadakan di tempat X pada jam Y. Selanjutnya si teman lama berkata, “Herman akan amat senang sekali jika kamu mau menjadi salah satu pengusung jenazahnya.”

Richard, yang masih tidak dapat mengingat ‘Herman’, memutuskan untuk berkata, “Tentu saja aku akan melakukannya dengan senang hati.” Setidaknya, dengan cara ini ia dapat menemukan siapa sebenarnya si ‘Herman’ ini. Sebuah ide cemerlang muncul, mengapa tidak menelepon Tempat X, tempat pemakaman akan dilaksanakan? Ide ini dilakukan juga, dan setelah memberikan petunjuk ini-itu (karena bahkan nama belakangnya si ‘Herman’ ini kan tidak diketahui?) ketahuan kalau si ‘Herman’ ini punya nama keluarga:Goldschmidt. OK, jadi si Herman adalah Herman Goldschmidt, tapi siapa pula orang ini? Tapi melihat cara bicara si teman lama, si penulis yakin bahwa antara Ia dan Herman pastilah mengenal satu sama lain.

Satu-satunya kesempatan adalah pergi ke acara pemakaman di Tempat X. Semua orang menyambut Richard dengan penghargaan yang teramat besar. Hingga pada saat prosesi pemakaman, si penulis melihat ke peti mati pertama, dimana terletak tubuh Ibu Herman. Menengok peti kedua(yang pastinya di sana ada Herman), si penulis benar-benar yakin: Ia tidak pernah melihat wajah itu sekalipun, seumur hidupnya(hingga saat itu tentunya).

Hingga peti mati dibawa ke penguburan, dengan penghormatan dan kehati-hatian Richard mengantarkan jenazah hingga tertutup tanah, mengetahui bahwa ‘Herman’ pasti akan menghargainya. Namun, hingga saat itu, si penulis tetap tidak mamiliki bayangan siapa sebenarnya Herman.

Bertahun-tahun kemudian si penulis menghubungi teman lamanya, bertanya apakah Ia masih mengingat tentang sebuah pemakaman bertahun-tahun lalu dan berterus-terang bahwa tidak sedikit pun si penulis mengenal Herman. Teman lama, dengan yakin menjawab, “Tetapi Richard, kalian saling mengenal di Los Alamos sebelum perang, kalian berdua adalah teman baikku, dan kita banyak bercakap-cakap bersama.” Dengan jujur Richard menjawab pula,”Aku benar-benar masih tidak dapat mengingatnya.”

Beberapa hari kemudian si teman lama menelepon, menjelaskan bahwa: mungkin si teman lama telah salah mengingat tahun, dan berkenalan dengan Herman tepat setelah Richard Feynman meninggalkan Los Alamos, dan karena itu si teman lama masih rancu di antara tahun-tahun tersebut, tetapi karena si teman lama berkawan baik dengan keduanya, Ia mengira mereka berdua pastilah saling mengenal. Jadi, si teman lama-lah satu-satunya yang membuat kesalahan, bukan aku, pikir si penulis. Atau….si teman lama hanya mencoba bersikap sopan?





Yang kubaca(sekarang)

26 05 2008

Sekarang..(entah kenapa) lagi pingin mbaca seri cerita kenangan karya Nh. Dini. Aku benar-benar lagi tergila2 sama sastra lokal!! Setelah puas melahap kumpulan cerpen-cerpen Kompas dari jaman Baheula(tahun 70-an) sampe yang paling baru(2006), trus mengorek2 buah pena Ahmad Tohari yang belum kubaca, eh..sekarang lagi pingin mbaca cerita kenangan. Terakhir kali, aku mbaca sampai Kemayoran aja. Gara-garanya waktu itu aku gak tahu kalo cerita kenangan ternyata masih ada kelanjutannya. Belakangan, aku baru tahu kalo setelah membaca Kemayoran, cerita kenangan akan berlanjut pada Jepun Negerinya Hiroko.(Bagi yang sudah mbaca, apa bener…?bagi2 info dunk!)

Walaupun begitu, kurasa aku berniat mbaca sampai Kuncup berseri aja, kali ya…habis itu langsung loncat ke Jepun Negerinya Hiroko aja…soalnya kan belum mbaca…

Buku lain yang sedang kuincar adalah karyanya Dickens, sekarang sih lagi mbaca Hard Times….selanjutnya apa ya? The Old Curiosity Shop apa Martin Chuzzlewit? Semuanya dalam bentuk ebook, karena pinjem di Perpus Kampus waktunya cuman 1 minggu aja! Mana puas? Kenapa gak diterjemahin ke Bhs Indonesia y?(kapan?)





Sehat itu Murah

23 05 2008

Itulah judul buku karya oleh Dr.Handarwan Nadesul yang diterbitkan oleh Penerbit KOMPAS. Bukan apa-apa, aku pinjem buku ini dari Perpus Kota–awalnya–dengan satu tujuan: cari bahan buat Tugas Akhir Semester kuliah Sistem Pakar. Alhamdulillah, ternyata buku ini memberikan manfaat lain, yaitu: menambah pengetahuan dan kesadaran bahwa kesehatan itu penting!

Kaget juga, karena dalam buku ini dijelaskan kalo manusia itu punya ‘bakat hidup’ sepanjang 120 tahun–secara defaultnya–, tetapi apakah 120 tahun itu akan tercapai atau tidak dan maksimal atau nggak bergantung pada langkah-langkah kita untuk menjaga modal sehat tersebut.

Lalu? Kalo sehat itu murah, berarti sakit itu mahal donk? YUP! BENAR SEKALI! Selain mengeluarkan biaya untuk berobat ketika sakit, kemudian makanan bergizi dengan jumlah lebih besar untuk proses penyembuhan ada kerugian-kerugian yang tak tergantikan. Kerugian tersebut adalah waktu dan kesempatan! Gara-gara sakit, kita bisa kehilangan waktu yang seharusnya bisa kita pakai untuk melakukan aktivitas yang jauh lebih penting dari sekedar menyembuhkan diri. Kesempatan pun raib gara-gara tubuh tak mau diajak kerja sama.

Maka dari itu, mumpung tubuh masih bisa diatur, aturlah pola makan, kebiasaan, dan jam tubuh dengan sebaik-baiknya. Makan tak cukup hanya teratur namun gizinya pun harus pepek, lengkap. Kebiasaan-kebiasaan yang baik harus mulai dibangun, seperti misalnya kebiasan tidur dan olahraga. Penelitian menyatakan bahwa tidur siang mampu memulihkan tenaga dan menyegarkan tubuh. Nah, tapi bukan lama atau tidaknya yang menentukan, namun kualitasnya, apakah nyenyak atau tidak. Tidur berlebihan juga tidak baik, karena malah membuat badan lemas. Ini juga berlaku untuk tidur di malam hari.

Ingatlah, tubuh ini adalah amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Yuk, mulai dari sekarang membiasakan diri hidup sehat, sehingga hidup pun jadi optimal. Sehat itu murah, asalkan kita mau mengatur diri. Rasulullah SAW menyunnahkan kita untuk tidur siang sejenak, mengapa tidak? Tidak perlu lama, hingga melalaikan urusan yang lain, tetapi cukup sebentar asal berkualitas. Kurang apa coba aturan Allah SWT?





Melarat

15 05 2008

Sebenarnya bahasan ini sudah pernah kusinggung di blog lama , tetapi karena kurasa buku ini benar-benar unik, pingin dibahas lagi ah…

Yap, judul asli karangan Pak George Orwell ini adalah “Down and Out in Paris and London”. Jangan salah, buku ini bukan panduan wisata di kedua kota metropol itu, tetapi justru menguak kekumuhan dan kebobrokan kota-kota besar tersebut. Meskipun settingnya di tahun20-40an, tapi penggambarannya cukup relevan bagi kita yang pingin mengintip serpihan fakta di kota-kota besar dunia(setidaknya jaman dulu kala).

Entah berdasar pertimbangan apa penerbit lokal(Lafadl Pustaka) memilih judul ‘Melarat’ ketimbang menerjemahkan judul aslinya kata-per-kata. Mungkin karena kata yang satu itu dirasa mewakili isi buku yang–memang beneran!!–mengisahkan pengalaman Pak Orwell hidup tanpa bekal di daerah kumuh Paris dan dunia gelandangan London.

Mungkin lain kali q bakal menyediakan ebook versi aslinya di sini. Tapi sementara ini ebooknya bisa didapat di Project Gutenberg Australia.