In the middle of…

26 06 2008

Minggu UAS yang pertama sudah selesai, Alhamdulillah….Engkau benar-benar melimpahkan karunia-Mu pada hamba yang hina ini, Ya Allah.

So? Baiklah, mari kita hitung bersama-sama:

Dari 8 mata kuliah yang diambil semester ini:

  • 3 project, status: finished (GrafKomp, SisPak, IMK)
  • 1 take-home essay, status: finished (PKn)
  • 1 ujian tulis, status: finished(MenJar)
  • 1 praktek+makalah, status: finished(Praktikum Menjar)

Trus? Yang tersisa tinggal ini niy:

  • RPL: project, status: OTW
  • OrKomp: tulis, status: unknown(entah beneran ada apa gak, walaupun peluang ada lebih besar)

That’s it? Yah…gak juga. Setelah UAS, masih ada PKL. Jadi masih terus sibuk nih bakalan. Tapi biarlah, meski berada di tengah-tengah ujian dan project begini, toh nyempetin diri juga buat blogging(itung-itung buat ngeluh-ngeluh gini nih!!;P). Hehe….





Buku Murah di Gramedia Book Fair Araya

18 06 2008

Hari Minggu lagi pingin jalan-jalan…Daripada tanpa tujuan, mending cari buku di Gramedia Book Fair, salah satu pameran buku murah yang lumayan sering diadain di Malang. Tempatnya deket, di Plaza Araya, bisa dijangkau dengan 15 menit jalan kaki dari rumah.

Jadilah. Buku-bukunya lumayan, cuman tetep aja..buku2 bagus macam Lima Sekawan, Harry Potter 7(200rb, paperback) cuman didiskon 15%, harga yang sama ditawarkan Toga Mas sehari-hari. Asyiknya, ada buku2 computing lama yang diobral. Harganya kira2 10rb per buah. Setelah pilih ini itu, timbang sini situ, kuambil dua buku: yang satu MSAccess database programming dengan Delphi-bonus CD(udh pernah baca, tapi lumayanlah buat referensi..), satunya lagi Java2D-bonus disket!!! Guess what? Disketnya udah berkarat..!!

Tapi gpp, gak terlalu berharap banyak dengan buku yang harga awalnya 30-40rb-an akhirnya diobral dengan harga 10rb-an(sekedar catatan, bukunya lumayan tebell juga).

Bagi yang mau jalan-jalan, langsung aja dateng, karena Pameran yang dibuka 12 Juni 2008 ini, masih akan berlangsung hingga tanggal 20-an(pastinya lupa, maaf). Siapa tahu bisa dapet buku murah ndadak, kan lumayan?





(5)Buku gratis dari truly-free.org

17 06 2008

Salah satu kerjaanku waktu browsing adalah cari situs-situs e-book yang benar-benar gratis dan koleksinya banyak. Namun untuk mencari buku baru atau buku yang langka, lain lagi ceritanya. Kebetulan aku lagi pingin cari ebooknya Ray Bradbury atau Ian McEwan. Kok ya pas nemu satu situs yang punya alamat: http://www.truly-free.org

Koleksinya lumayan banyak, termasuk fiksi dan non-fiksi. Yang seru, disini tersedia ebook-ebook yang di situs lain masih dalam kategori ‘dijual’, artinya ya kudu mbayar. Beberapa judul yang asyik antara lain:

  1. A Thousand Splendid Suns-Khaled Hosseini
  2. Atonement, Saturday, Amsterdam-Ian McEwan
  3. Beberapa karya Agatha Christie
  4. The Illustrated Man-Ray Bradbury
  5. The Lord of The Ring, The Hobbit-J.R.R. Tolkien
  6. The Goblet of Fire, The Sorcerer’s Stone-JK.Rowling
  7. The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy-Adam Douglas
  8. Buanyakkk lagi, termasuk buku-buku Programming, Sejarah, Biologi, dll.

Wei, tunggu dulu…masak bener-bener gratis? Yah..ada syaratnya sih. Sekali ngambil, kita cuman bisa download max 5 buku saja. Kalo mau lebih, kita diharapkan memberi donasi dulu. Gitu….

Gimanapun, gak ada salahnya cari ebook disini. Terutama kalo ebook yang dicari masih komersil atau langka, gak rugi yang jelas.





Who The Hell Is Herman?

13 06 2008

Sebuah cerita lucu dalam buku otobiografi Richard Feynman:

Suatu saat, si pengarang dihubungi seorang teman lama melalui sambungan jarak jauh yang membawa kabar: “Richard, aku punya kabar buruk untukmu. Herman meninggal.”

Richard Feynman, yang kesulitan mengingat nama dan merasa tidak enak, sehingga reaksinya adalah: “Oh?” mencoba untuk serius dan tenang, namun berkata pada diri sendiri “Who the hell is Herman?”

Si teman lama berkata bahwa Herman dan Ibunya telah meninggal dalam kecelakaan mobil di dekat LA, dan upacara pemakamannya akan diadakan di tempat X pada jam Y. Selanjutnya si teman lama berkata, “Herman akan amat senang sekali jika kamu mau menjadi salah satu pengusung jenazahnya.”

Richard, yang masih tidak dapat mengingat ‘Herman’, memutuskan untuk berkata, “Tentu saja aku akan melakukannya dengan senang hati.” Setidaknya, dengan cara ini ia dapat menemukan siapa sebenarnya si ‘Herman’ ini. Sebuah ide cemerlang muncul, mengapa tidak menelepon Tempat X, tempat pemakaman akan dilaksanakan? Ide ini dilakukan juga, dan setelah memberikan petunjuk ini-itu (karena bahkan nama belakangnya si ‘Herman’ ini kan tidak diketahui?) ketahuan kalau si ‘Herman’ ini punya nama keluarga:Goldschmidt. OK, jadi si Herman adalah Herman Goldschmidt, tapi siapa pula orang ini? Tapi melihat cara bicara si teman lama, si penulis yakin bahwa antara Ia dan Herman pastilah mengenal satu sama lain.

Satu-satunya kesempatan adalah pergi ke acara pemakaman di Tempat X. Semua orang menyambut Richard dengan penghargaan yang teramat besar. Hingga pada saat prosesi pemakaman, si penulis melihat ke peti mati pertama, dimana terletak tubuh Ibu Herman. Menengok peti kedua(yang pastinya di sana ada Herman), si penulis benar-benar yakin: Ia tidak pernah melihat wajah itu sekalipun, seumur hidupnya(hingga saat itu tentunya).

Hingga peti mati dibawa ke penguburan, dengan penghormatan dan kehati-hatian Richard mengantarkan jenazah hingga tertutup tanah, mengetahui bahwa ‘Herman’ pasti akan menghargainya. Namun, hingga saat itu, si penulis tetap tidak mamiliki bayangan siapa sebenarnya Herman.

Bertahun-tahun kemudian si penulis menghubungi teman lamanya, bertanya apakah Ia masih mengingat tentang sebuah pemakaman bertahun-tahun lalu dan berterus-terang bahwa tidak sedikit pun si penulis mengenal Herman. Teman lama, dengan yakin menjawab, “Tetapi Richard, kalian saling mengenal di Los Alamos sebelum perang, kalian berdua adalah teman baikku, dan kita banyak bercakap-cakap bersama.” Dengan jujur Richard menjawab pula,”Aku benar-benar masih tidak dapat mengingatnya.”

Beberapa hari kemudian si teman lama menelepon, menjelaskan bahwa: mungkin si teman lama telah salah mengingat tahun, dan berkenalan dengan Herman tepat setelah Richard Feynman meninggalkan Los Alamos, dan karena itu si teman lama masih rancu di antara tahun-tahun tersebut, tetapi karena si teman lama berkawan baik dengan keduanya, Ia mengira mereka berdua pastilah saling mengenal. Jadi, si teman lama-lah satu-satunya yang membuat kesalahan, bukan aku, pikir si penulis. Atau….si teman lama hanya mencoba bersikap sopan?





KOPI INSTANT

13 06 2008

oleh Slamet Soeseno

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Bulanan INTISARI No.326 Bulan September 1990 Hal.120-125

Dalam zaman serba cepat sekarang ini, minum kopi juga dipercepat. Untung ada kopi instant, yang segera bisa diminum, setelah diseduh dengan air panas.

Zaman santai seperti waktu nenek moyang kita minum kopi sambil lesehan, mendengarkan burung perkutut dulu, kini agaknya sudah langka. Sayang sekali!

Saya masih ingat, bagaimana ibu saya dulu menyiapkan wedang (minuman panas) kopi dari koffiefilter, teko keramik, yang di atasnya ada penyaringnya berbentuk silinder. Semalam sebelumnya, ada sejumlah bubuk kopi yang dimasukkan ke dalam penyaring itu bersama air mendidih. Esok paginya, dalam teko itu sudah ada larutan sari kopi yang terkumpul, hasil penampungan tetesan kopi yang sudah melalui penyaring halus itu. Itulah yang kemudian diencerkan lagi dengan air hangat dan gula dalam cangkir, lalu dihidangkan kepada ayah yang sudah duduk menanti di meja makan, siap sarapan dan berangkat ke kantor.

Karena sari kopi itu diperoleh dengan meneteskan air melalui timbunan kopi bubuk yang ditahan penyaring, kopinya lalu disebut kopi tetes. Nikmatnya bukan main, karena yang kita minum adalah ekstrak kopi murni.

Pada hari Minggu dan hari besar, ngopi itu dilakukan lebih santai lagi. Tidak di meja makan yang formal, tetapi di serambi belakang yang menghadap ke kebun bunga. Sambil ngopi, ayah mendengarkan nyanyian burung perkutut dan tekukur.

Sudah berubah

Ketika saya sendiri menjadi pakné tolé (bapaknya anak-anak), acara minum kopi sudah tidak dengan perkutut lagi, tapi warta berita dari RRI, diselingi iklan radio swasta niaga dan musik dung-byeng-dung-byeng.

Kopi tetes tidak dibuat dengan koffiefilter keramik lagi, tapi dengan drip pot dari gelas pyrex tahan panas. Air mendidih yang mengekstrakkan kopi sejak malam sebelumnya, dan kini sudah terkumpul dalam wadah di bawah penyaring, dipanasi langsung dengan api kompor. Memang sudah lebih cepat, tapi karena dirasakan masih brengsek, ada yang kemudian mengekstrakkan kopi dengan coffeemaker saja yang lebih praktis. Bubuk kopi dicampur langsung dengan air dan gula dalam wadah gelas tahan panas (juga) dari coffeemaker itu, lalu dipanaskan di atas kookplat, yang merupakan bagian dari alat itu juga. Sewaktu bergolak karena mendidih, air ini mengekstrakkan sari kopi, sekaligus juga menyeduhnya. Tidak perlu satu malam seperti penyaringan kopi tetes, tapi beberapa menit saja.

Ini memang cocok dengan zaman serba cepat seperti sekarang ini, tapi hasilnya bukan ekstrak kopi tetes lagi, melainkan kopi tubruk (semacam kopi “tembak langsung”). Bubuk kopi dan gula diguyur langsung dengan air mendidih dalam cangkir, lalu diaduk sampai rata. Jelas ada sari kopi juga yang terperas ke luar dan larut dalam air mendidih itu, (dengan perkolasi, istilah teknisnya), tapi karena waktu yang diberikan cuma singkat, maka sari yang diekstrakkan juga kurang pekat. Bagian yang menyisa lebih banyak daripada yang diekstrakkan. Read the rest of this entry »