Pain is Part of Learning

26 05 2008

Waktu kita masih kecil, Ibu kita tidak lelah-lelahnya melatih kita untuk berjalan. Padahal kita jatuh berkali-kali, tetapi Ibu tidak menyerah, terus mendorong kita untuk terus mencoba. Ayo Nak, ayo Nak…Padahal Ibu kita bukannya tidak iba, tapi beliau tahu, jika tidak begitu maka kita tak akan bisa berdiri sendiri, berjalan sendiri.

Ah, apalah arti sakit dan derita jika bukan untuk belajar? Belajar untuk semakin mengenali diri kita sendiri….

Kurasa tak salah kalau kukutip lirik lagunya Lifehouse, Undone

I can see it your eyes you’re hurting
But pain is part of learning who you are
All these truths can sometimes be deceiving
When your whole world comes crashing to the ground

Tell me everything you need now anything at all
And I will be the one who’s waiting anytime you fall

Yeah, When you come undone
When you come undone

You know I can’t be like everybody
Cause I can’t tell you what you want to hear
I don’t know if I can make it better
All I know is I will be around

Tell me everything you need now anything at all
And I will be the one who’s waiting anytime you fall

Yeah, When you come undone
When you come undone

When all your plans are made out lying on the floor
And all your dreams are turning into nothing more
When all your hope has left you know you’re not alone
Just hold on
Hold on

Tell me everything you need now anything at all
And I will be the one who’s waiting anytime you fall

Yeah, When you come undone
When you come undone

(Teringat kepada keponakanku Ayesha, yang makin lancar berbicara seiring dengan kelincahannya berjalan)





Way-To-Born

23 04 2008

Sungguh, betapa aneh—sebenarnya sih tidak—bagaimana cara seorang bayi dilahirkan. Maksud saya bukan proses kelahirannya sendiri, tapi lebih kepada kejadian-kejadian menjelang proses kelahiran. Seringkali beberapa jam—atau bahkan hari—menjelang kelahiran seorang bayi, entah si Ibu atau keluarganya diliputi perasaan was-was, tegang, panik, atau bahkan berdebar-debar—yang lebih mirip seperti perasaan orang yang mau naik ke panggung, mungkin—.
Contohnya, yah gak usah jauh-jauh. Kata Ibu, sore hari, beberapa jam sebelum saya lahir Ibu sudah merasa perutnya melilit—mirip orang yang pingin ke belakang, katanya—namun Eyang melarang Ibu untuk berangkat ke RS, Ibu diminta untuk berjalan-jalan saja. Aslinya sih Ibu sudah kepingin berangkat aja ke RS Bersalin, tapi apa mau dikata, mertua sudah memberikan titah. Malam-malam, Ibu sudah tidak tahan lagi, ingin segera ke RS sebelum si jabang bayi keburu keluar. Nekat, karena jam segitu—kira2 jam 10 malam—sudah tidak ada bemo lagi(waktu itu masih belum ada mikrolet, ingat2!) dan jalanan sepi(yah..bayangkan saja keadaan Malang di tahun 80-an). Kok ya pas….ada mobil patroli polisi yang lewat(Alhamdulillah….)maka Ibu, dibantu iparnya—yaitu tante saya—menghentikan mobil patroli PakPol dan berkata dengan tegas: “Pak, numpang sampai RS ya, ini ipar saya sudah mau melahirkan”. Entah karena PakPol tidak ada kerjaan atau merasa iba dengan kondisi Ibu saya yang sudah hamil tua, ia mengizinkan. Dan akhirnya, si jabang bayi yang tadi sempat menyusahkan PakPol pun lahir dini hari itu jam 1.18 waktu Kota Malang. Polisi memang benar-benar abdi masyarakat—setidaknya polisi yang mbantu Ibu saya waktu itu—Makasih ya Pak…!
Lain lagi dengan cerita teman saya, yang dilahirkan di….t-o-i-l-e-t! Ceritanya, Ibu teman saya ini merasa perutnya melilit—sperti halnya Ibu saya—dan dengan santainya si Ibu pergi ke belakang. Ibu teman saya ini dengan pedenya nongkrong di toilet, dan tebak apa yang didapatinya di wc? Yah! Anda benar! Ya teman saya itu. Rupanya si Ibu saking lancarnya sampai tidak terasa kalau sudah melahirkan. Alhamdulillah… Rupanya Sang Maha Pengatur memudahkan proses kemunculan teman saya ke dunia!