Berburu E-book (update 2016)

3 12 2016

Kalo dipikir-pikir, sudah sejak kapan ya saya baca e-book? Hmm… mungkin sudah dari awal masa kuliah. Sapa yang mengira kalo kerjaan saya ternyata sekarang ngubek-ngubek e-book juga, haha. Namun gara-gara itu saya jadi punya kesempatan untuk cek sumber e-book di sana-sini, selain untuk cek format dan aplikasi sekaligus juga untuk mempelajari sistemnya. Apalagi dengan boomingnya sistem operasi Android, rasanya makin mudah untuk akses e-book sekarang (jauh lebih mudah dibanding jaman pra-mobile device sih, setidaknya). Saya sendiri baru aktif menggunakan Android sejak 2013, cukup terlambat sebenarnya. Padahal awal-awal lulus kuliah saya sempat nulis seputar Android untuk content writing, kira-kira setengah tahunan (mulai pertengahan 2011 hingga awal 2012). Sesungguhnya saat itu saya belum pernah menyentuh Android sama sekali.
Nah, sekarang saya mau share sumber-sumber e-book yang biasa saya pake berikut plus minusnya. Format yang saya pake cukup variatif, mulai dari word, pdf, djvu, chm, epub, lit, txt, rtf, atau bahkan html.

Read the rest of this entry »

Advertisements




Pottermore Presents – sekilas saja

29 11 2016

Meskipun saya sudah lama jadi penggemar Harry Potter (ngakunya) baru-baru ini aja saya buat akun di Pottermore. Setidaknya pas sebelum websitenya berganti format baru. Saya masih di tengah-tengah tahun ketiga (kalo gak salah) saat Pottermore berganti format. Agak sayang juga sih gamenya hilang, walau saya gak sering-sering amat mampir.
Tak lama kemudian ada pengumuman bahwa Pottermore akan merilis ebook set yang diberi embel-embel “Pottermore Presents”. Ada tiga buku yang bakal dirilis dan isinya bakal mengulas seputar wizarding worldnya Bu J.K. Rowling. Preorder ebook bakal tersedia melalui iBook, Amazon, Kobo, dan Barnes & Noble. Wah, pikir saya. Kayaknya bisa nih ikut preordernya. Kebetulan saya sudah ada akun Amazon (meski belum pernah beli sama sekali) dan… ada saldo nganggur di paypal saya (bilang aja males nyairin ke bank ;P).
Eh apa dikata. Ternyata paypal tak bisa langsung dipake buat bayar di Amazon. Ya sudah, saya coba daftar bikin akun di Kobo. Ternyata lalu ada trouble di alamat. Buku tersebut tidak tersedia di negara Anda, begitu kata Kobo. Saya coba brosing sana-sini ternyata memang situs-situs ebook di atas tidak menyediakan ebook di region kita. Sedih kan. Kecuali iBook, saya memang tidak coba iBook karena saya gak punya produk Apple, hehe. Dari hasil brosing tersebut saya mendapatkan tips klo mau beli ebooknya bisa pake alamat di amrik sono, tinggal gugling aja alamat yang memang benar-benar ada di sana. Seharusnya ini gak jadi masalah selama kita gak beli barang fisik yang mau dikirim ke alamat itu (ya emang buat siapa juga). Dengan asumsi alamat yang kita pake asal comot aja lho ya, misalkan mau pake alamat sodara atau temen di sana ya boleh saja.
Saya coba dan… sukses. Saya berhasil preorder satu ebook Pottermore Presents. Kenapa satu? Karena pake paypal ribet dan beruntung saya masih punya gratisan 3 dolar dari Amazon pas buka akun. Ebooknya sendiri per buku dibandrol $2.99, jadi pas banget. Setelah bukunya nyampe dengan selamat pas hari rilis (otomatis langsung dikirim ke akun kita) baru saya coba beli pake giftcard (paypalnya dilupakan).
Isinya? Begitu ebooknya rilis memang sudah banyak review di sana-sini dan saya baca beberapa. Untuk ukuran ebook di bawah 3 dolar saya rasa wajarlah kalau halamannya tidak setebal buku Bu J.K. yang lain. Memang benar sebagian besar isinya adalah tulisan yang sudah dipublish di Pottermore, tapi ada beberapa tambahan tulisan baru juga kok. Cukuplah untuk mengobati sedikit kangen harpot… sekaligus sambil menunggu film Fantastic Beasts rilis juga kan (waktu itu). Bolehlah dicoba.





telor ceplok kemewahan

30 08 2015

Telor ceplok di keluarga kami itu makanan mewah. Menu yang keluarnya amat sangat jarang, bahkan dibanding ayam. Alasannya ekonomis sebenarnya. Kami keluarga dengan 4 anggota lebih sering menikmati telor dalam bentuk telor bumbu bali atau telor dadar. Untuk telor dadar, cukup 2-3 telor dikocok bersama untuk jadi menu meja makan berempat. Lebih ekonomis jika dibandingkan dengan harus menyediakan satu telor ceplok per orang, haha. Telur bumbu bali juga sama saja, isinya mungkin 3-5 telor sekali masak. Namun karena jatah setiap kali makan adalah ‘sesigar’ atau satu telor dibagi dua per orang, maka telor bumbu bali ini menjadi menu yang long lasting, bisa sampai 2-3 kali waktu makan. Ibuk saia memang jago strategi.
Mengapa lebih sering keluar ayam dari pada telor? Singkat kata, ibu yang aktif di kegiatan sosial kampung selalu punya acara rutin minimal seminggu sekali, pengajian atau arisan. Walhasil setidaknya seminggu sekali dapatlah kita jatah berkat atau nasi kotakan yang menu utamanya umumnya ayam. Ayamnya memang cuman satu potong, tapi karena kami sudah kebiasaan membagi rata makanan maka seringkali satu potong ayam itu dibagi bertiga: saya, adik, bapak. Ibu toh sudah dapat jatah makan di acaranya, kadang kala saja ibu juga ikut menikmati ayam itu. Ya mungkin karena sering ayam yang keluar maka kami juga lambat laun bosan juga. Ujung-ujungnya ayam ditawarkan pada siapa saja yang berminat (saya jarang banget sih ngambil, paling2 ngicip sedikit sudah), atau dibagi buat siapa pun yang mau, atau ya udahlah kasih bapak aja ;P. Telor rebus atau telor bali juga cukup sering nongol di nasi kotakan kan? Tapi telor ceplok? Wah, juarang banget kalo gak bisa dibilang nggak pernah muncul.





sisihkan

13 01 2015

Saat merasa begitu bahagia yang meluap,
maka sisihkan sedikit untuk bersyukur,
sehingga tak ada kata terlalu berbahagia.
Demikian pula saat dilanda kesedihan yang begitu dalam,
sisihkan lebih lebih lagi untuk lebih bersyukur.
Sehingga tak ada istilah tenggelam dalam kesedihan.

untuk hidup dan masa depan, dari dirimu saat ini.





segelas air

4 12 2014

Menengguk setengah gelas air dari segelas penuh air, rasanya hilang tersia-sia begitu saja.
Namun mengambil setengah gelas air dari sebuah baskom tidaklah terasa begitu banyak.
Apalagi dari sebuah kolam, atau sumur. Jangankan setengah gelas, satu gelas penuh pun tak begitu berarti dibandingkan banyaknya air yang berlimpah di kolam atau sumur tersebut.
Ya, segelas air yang diambil dari sebuah sumber, danau, bahkan laut tidak mengurangi sedikit pun kelimpahan airnya.

Begitu pula dengan manusia.
Jika kita melihat rizki kita hanya segelas penuh, maka meneguknya setengah gelas saja berasa sangat banyak. Apalagi segelas penuh, rasanya bagai membuang sia-sia isi gelas yang susah payah didapat.
Namun berbeda jika kita melihat bahwa rizki yang segelas itu sesungguhnya berasal dari sumber yang berlimpah, yang tak ada habisnya. Maka kita pun lebih ringan dalam meneguk segelas penuh air yang kita dapat.

Ketika memenuhi keinginan kita sendiri, anggaplah bahwa rizki itu hanya segelas saja.
Namun ketika memberi kepada orang lain, lihatlah bahwa yang segelas penuh itu hanyalah di permukaan saja. Di baliknya ada sumber yang lebih lancar, ada sumur yang lebih dalam, dan ada danau yang lebih luas.
Dan bukankah kita telah dijanjikan demikian?

agar semakin ringan dalam memberi.