Politik Kuasa Media by Noam Chomsky

30 04 2008

”Fakta di media massa hanyalah hasil rekonstruksi dan olahan para pekerja redaksi. Walaupun mereka telah bekerja dengan menerapkan teknik-teknik jurnalistik yang presisi, tetapi tetap saja kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang mereka tulis adalah fakta yang sebenarnya. Salah satu pemikir yang menyumbang keraguan ini adalah Noam Chomsky.

Menurut Noam Chomsky informasi di media hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat. Namanya rekonstruksi tentunya sangat tergantung pada bagaimana orang di balik media dalam melakukan kerjanya.

Buku ini menjelaskan secara menarik peran propaganda media massa dalam rekayasa opini publik. Noam Chomsky juga mendedah bagaimana para penguasa sebenarnya memiliki tujuan yang kontraproduktif dengan keinginan publik/ rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan.”

–Back Cover POLITIK KUASA MEDIA—

Judul Buku : Politik Kuasa Media

Judul Asli : Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda

Pengarang : Noam Chomsky

Penerbit : Pinus Book Publisher

Tahun : 2006 , Edisi II(Revisi)

Ukuran : 12 x 19 cm

Buku imut dengan tebal 68 halaman ini isinya memang cukup berat dibandingkan tampilannya yang slim. Berisi 7 essay seputar media massa dan propaganda yang diawali dengan essay pertama yaitu ”Kuasa Media, Pencapaian Spektakular Propaganda Media Amerika” dimana Pak Chomsky memberikan batasan terhadap tulisan-tulisan berikutnya. Bab 2, ”Awal Munculnya Propaganda” mengupas sejarah singkat munculnya propaganda di masa modern(disini Chomsky membatasi sejak masa Woodrow Wilson). Pada ”Pemirsa Demokrasi” pembaca akan digiring untuk menyadari bahwa selama ini publik telah dibatasi hanya sebagai”penonton” saja, tanpa diijinkan ada campur tangan di dalamnya. Bab-bab selanjutnya, ”Industri Humas”, ”Rekayasa Opini”, ”Representasi sebagai Kenyataan”, ”Budaya Pemberontak”, ”Parade Para Musuh”, ”Diskriminasi Persepsi”, dan bab terakhir yang lebih condong ke arah contoh praktis ”Perang Teluk” mengupas bahwa betapa media massa dan propaganda hanyalah alat jebakan semata untuk membuat publik merasa seakan-akan ada ”kebebasan berekspresi, berkumpul” namun pada dasarnya tanpa mampu mengadakan satu perubahan.

—Kira-kira sih gitu..—

Worth enough to read. 😛





Sang Pengunjung (Part 2)

29 04 2008

“Jadi inilah Mars.” kata lelaki itu, mengamati sekelilingnya dengan pandangan tertarik.

“HALO! HALO!” teriak Saul bahkan sebelum dia cukup dekat untuk membiarkan lelaki itu mengetahui keberadaannya. Saul bergegas –-hampir berlari—dengan gembira mendekati lelaki itu. Seorang lelaki muda berambut pirang dengan mata sendu namun sikapnya riang.

”Halo. Namaku Leonard Mark.” sahutnya.

“Aku Saul Williams. Bagaimana segala sesuatu di New York?”jawab Saul antusias.

“Seperti ini.” Ia mengangkat dan merentangkan kedua tangannya sebatas bahu.

Dan tiba-tiba, tanpa disangka-sangka New York keluar begitu saja dari gurun, terbuat dari batu dan dipenuhi dengan angin bulan Maret. Neon-neon terpecah dalam warna-warni elektrik. Taksi-taksi berwarna kuning meluncur dalam kegelapan malam. Jembatan-jembatan timbul dan kapal-kapal penarik berlabuh di pelabuhan-pelabuhan tengah malam. Tabir-tabir bermunculan dalam kelap-kelip berirama. Gedung-gedung tinggi dengan papan-papan reklame berwarna-warni tampak jelas dan nyata, senyata karat darah.

“APA YANG TERJADI PADAKU? APA YANG SALAH DENGANKU? AKU MENJADI GILA! HENTIKAN! INI TIDAK MUNGKIN!” teriak histeris Saul dari mulutnya, mencengkeram kedua samping kepalanya. New York begitu nyata, sangat nyata, sehingga ia tak mampu untuk mempercayainya, tidak disini –-di Mars.

”Memang begini.” kata Leonard Mark tenang, senyum sendu terpampang di wajahnya.

Dan dengan tiba-tiba pula-sama seperti datangnya –- menara-menara New York lenyap. Saul berdiri di permukaan laut mati yang kosong, menatap lemah pada pendatang baru yang masih muda.

”Kau yang melakukannya. Kau melakukannya dengan pikiranmu.” Saul masih tampak tak percaya. Dengan tenang Leonard Mark menjawab “Ya.”

Saul memandangnya lekat-lekat tanpa kata-kata. Akan tetapi dia menyadari, daripada terus memandangnya, lebih baik mengatakan sesuatu.

“Oh, tapi aku senang kau ada disini. Kau tidak bisa tahu betapa gembiranya aku!” Saul menjabat tangannya dengan hangat.

●●●

Saat itu senja hari, matahari hampir tenggelam. Mereka melewati sepanjang pagi hari yang hangat dengan bercakap-cakap.

“Dan kemampuanmu?” tanya Saul.

“Itu adalah sesuatu yang kudapatkan sejak lahir. Ibuku saat itu berada di pusat kota London tahun ’57. Aku lahir sepuluh bulan kemudian.“ jelas Leonard Mark.

Diluar tenda Leonard –-tenda dengan warna hijau yang sama seperti milik Saul, tapi jelas tidak tampak kusam— yang telah membongkar barang-barangnya dan menyalakan api diluar tendanya, mereka berdua bercakap-cakap sambil menghangatkan diri menjelang malam yang turun perlahan-lahan.

“Aku tidak tahu bagaimana kau akan menyebutnya. Telepati dan transfer pikiran, kurasa. Aku telah terbiasa melakukan aksi pertunjukan di Bumi. Kebanyakan orang berpikir aku adalah tukang obat. Aku tidak membiarkan setiap orang tahu bahwa aku memang benar-benar asli. Lebih aman untuk tidak membiarkannya beredar terlalu luas,” Leonard menjelaskan kemampuannya yang unik sambil memiringkan sebagian badannya bertumpu pada lengan.

To Be Continued….





My candle burns…

25 04 2008

My candle burns at both ends

It will not last the night

But ah my foes and oh my friends

It gives a lovely lights.

–Roald Dahl’s Motto–

Mungkin kita tidak hidup lama, tapi hidup harus berarti kan?





Challenge 4 Engineer!!!

25 04 2008

Nah, saya menemukan satu artikel menarik yang dipostkan Pak Koen, yaitu mengenai survey tentang:

Apa sih tantangan buat para Insinyur masa kini?

Nah, kira-kira hasil dari survey yang dilakukan Situs Engineering Challenge, bisa dilihat di sini.





Sang Pengunjung (Part 1)

24 04 2008

Pagi itu pagi yang sunyi di Mars, dengan dasar laut mati yang datar dan diam-tanpa angin di permukaannya. Matahari tampak bersih dan tenang di langit kemerahan yang kosong. Saul Williams melihat keluar tendanya dengan cemas dan berpikir tentang seberapa jauhkah Bumi. Tetapi apa yang dapat kau lakukan ketika paru-parumu penuh dengan “karat darah”.

Karat darah ini –- ia memenuhi mulutmu dan hidungmu; ia keluar dari kedua telingamu; kuku-kuku jarimu; dan ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membunuhmu. Tidak ada obat yang diketahui untuk penyakit ini di Bumi, dan tetap tinggal akan mengkontaminasi dan membunuh yang lain.

Satu-satunya penyelesaian adalah menyorongmu ke sebuah roket dan menembakkanmu lepas menuju pembuangan di permukaan Mars.

Jadi disitulah Saul berada saat itu. Di sebuah tenda kecil berwarna hijau tua kusam, dengan sedikit barang-barang –teko dan gelas kaleng di atas bekas perapian yang telah mati- di depan tendanya. Berdarah sepanjang waktu dan terlupakan. Keluar tenda, ia terbatuk-batuk hebat, rasa sakit membuatnya mencengkeram perutnya, sekalipun ia berdiri tegak. Menatap langit kosong kemerahan, ia mengeluh ”Tuhan, aku kesepian.” seakan Tuhan akan menjawabnya dengan mengirim seseorang –-dokter yang membawa obat baru, mungkin—. Dia melangkahkan kakinya dengan susah payah, ia cukup kuat, tetapi karat darah telah membuatnya agak limbung. Betapa ia sangat ingin kembali ke Bumi. Dicobanya setiap cara yang mungkin untuk dapat berada di New York. Terkadang, jika ia duduk tenang dan memegang tangannya dengan suatu cara tertentu—ya, ia melakukannya—,ia hampir dapat membaui New York.

Di tengah jalan, Saul bertemu seorang laki-laki yang sedang berbaring dibalik selimut di luar tenda hijaunya, yang jelas sekali, sama seperti milik Saul, tenda bekas militer.

”Halo, Saul.” sapa lelaki tua itu. Menjawab sapaannya, Saul berkata, ”Pagi yang lain lagi. Aku sangat menginginkan Bumi, hingga rasanya begitu pedih.” Laki-laki di selimut diam-tidak bergerak dan sangat pucat, seolah-olah ia akan lenyap jika kau menyentuhnya.

“Itu adalah salah satu hal yang menyusahkan dari karat.” jelas lelaki tua itu, seakan berusaha menganggapnya sesuatu yang pasti dihadapi setiap orang.

Saul hanya terpaku memandangnya, lelaki tua itu begitu tak berdaya. Ia tahu, lelaki tua itu pun menderita karat, dan ia pun tahu tak lama lagi keadaannya tak akan jauh berbeda dengan lelaki itu.

“Aku memohon kepada Tuhan agar pada akhirnya kau setidaknya dapat bicara. Mengapa para intelek itu tidak pernah mengatasi karat darah dan datang keatas sini?” tanya lelaki tua itu lemah.

Saul tetap terdiam, tak memiliki jawaban atas pertanyaan yang sesungguhnya sangat ingin diketahuinya pula.

“Datanglah besok, mungkin aku akan punya cukup kekuatan untuk berbicara tentang Aristoteles. Dan kemudian akan mencoba. Sungguh, aku akan berusaha.” kata lelaki tua itu akhirnya, bangun dari pembaringannya yang rata dengan tanah dengan susah payah.

”Kuharap aku sesakit engkau. Dan mungkin aku tidak akan cemas tentang menjadi seorang intelek. Dan mungkin aku akan setidaknya memperoleh suatu ketenangan.” kata Saul, sementara lelaki tua itu susah payah menyeret kakinya yang telanjang menuju ke lereng bukit kecil –-mungkin tidak dapat disebut bukit, hampir seperti gundukan yang agak besar—yang landai didekat situ.

“Kau akan memburuk sepertiku dalam waktu kira-kira enam bulan. Kemudian kau tidak akan peduli apapun kecuali tidur. Tidur akan menjadi seperti wanita bagimu, segar, bagus, dan setia,” lelaki tua itu berusaha keras meletakkan badannya dalam posisi yang nyaman di lereng landai. Tangannya susah payah menyangga badannya, satu kakinya menekuk, kaki yang lain mencari-cari pijakan yang tepat. Akhirnya ia berhasil membaringkan badannya di tempat yang nyaman.

“Itu suatu pikiran yang bagus…”ujar lelaki tua itu akhirnya. Saul dapat melihat, tangan lelaki itu mencengkeram ulu hatinya. Meninggalkan lelaki tua itu yang telah menemukan tempat yang nyaman, Saul berjalan terus.

Perhatiannya terpecah oleh suara yang dikenalnya, ia menoleh. Logam cerah tampak melesat di langit. Semenit kemudian, roket itu mendarat di permukaan laut mati yang datar. Seorang lelaki melangkah keluar, membawa barang-barangnya. Dua lelaki yang lain dalam pakaian bebas hama—kedap udara menemaninya, mengeluarkan peti-peti makanan sangat besar, menegakkkan sebuah tenda untuknya. Menit berikutnya, roket kembali lagi ke langit.