Sang Pengunjung (Part 1)

24 04 2008

Pagi itu pagi yang sunyi di Mars, dengan dasar laut mati yang datar dan diam-tanpa angin di permukaannya. Matahari tampak bersih dan tenang di langit kemerahan yang kosong. Saul Williams melihat keluar tendanya dengan cemas dan berpikir tentang seberapa jauhkah Bumi. Tetapi apa yang dapat kau lakukan ketika paru-parumu penuh dengan “karat darah”.

Karat darah ini –- ia memenuhi mulutmu dan hidungmu; ia keluar dari kedua telingamu; kuku-kuku jarimu; dan ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membunuhmu. Tidak ada obat yang diketahui untuk penyakit ini di Bumi, dan tetap tinggal akan mengkontaminasi dan membunuh yang lain.

Satu-satunya penyelesaian adalah menyorongmu ke sebuah roket dan menembakkanmu lepas menuju pembuangan di permukaan Mars.

Jadi disitulah Saul berada saat itu. Di sebuah tenda kecil berwarna hijau tua kusam, dengan sedikit barang-barang –teko dan gelas kaleng di atas bekas perapian yang telah mati- di depan tendanya. Berdarah sepanjang waktu dan terlupakan. Keluar tenda, ia terbatuk-batuk hebat, rasa sakit membuatnya mencengkeram perutnya, sekalipun ia berdiri tegak. Menatap langit kosong kemerahan, ia mengeluh ”Tuhan, aku kesepian.” seakan Tuhan akan menjawabnya dengan mengirim seseorang –-dokter yang membawa obat baru, mungkin—. Dia melangkahkan kakinya dengan susah payah, ia cukup kuat, tetapi karat darah telah membuatnya agak limbung. Betapa ia sangat ingin kembali ke Bumi. Dicobanya setiap cara yang mungkin untuk dapat berada di New York. Terkadang, jika ia duduk tenang dan memegang tangannya dengan suatu cara tertentu—ya, ia melakukannya—,ia hampir dapat membaui New York.

Di tengah jalan, Saul bertemu seorang laki-laki yang sedang berbaring dibalik selimut di luar tenda hijaunya, yang jelas sekali, sama seperti milik Saul, tenda bekas militer.

”Halo, Saul.” sapa lelaki tua itu. Menjawab sapaannya, Saul berkata, ”Pagi yang lain lagi. Aku sangat menginginkan Bumi, hingga rasanya begitu pedih.” Laki-laki di selimut diam-tidak bergerak dan sangat pucat, seolah-olah ia akan lenyap jika kau menyentuhnya.

“Itu adalah salah satu hal yang menyusahkan dari karat.” jelas lelaki tua itu, seakan berusaha menganggapnya sesuatu yang pasti dihadapi setiap orang.

Saul hanya terpaku memandangnya, lelaki tua itu begitu tak berdaya. Ia tahu, lelaki tua itu pun menderita karat, dan ia pun tahu tak lama lagi keadaannya tak akan jauh berbeda dengan lelaki itu.

“Aku memohon kepada Tuhan agar pada akhirnya kau setidaknya dapat bicara. Mengapa para intelek itu tidak pernah mengatasi karat darah dan datang keatas sini?” tanya lelaki tua itu lemah.

Saul tetap terdiam, tak memiliki jawaban atas pertanyaan yang sesungguhnya sangat ingin diketahuinya pula.

“Datanglah besok, mungkin aku akan punya cukup kekuatan untuk berbicara tentang Aristoteles. Dan kemudian akan mencoba. Sungguh, aku akan berusaha.” kata lelaki tua itu akhirnya, bangun dari pembaringannya yang rata dengan tanah dengan susah payah.

”Kuharap aku sesakit engkau. Dan mungkin aku tidak akan cemas tentang menjadi seorang intelek. Dan mungkin aku akan setidaknya memperoleh suatu ketenangan.” kata Saul, sementara lelaki tua itu susah payah menyeret kakinya yang telanjang menuju ke lereng bukit kecil –-mungkin tidak dapat disebut bukit, hampir seperti gundukan yang agak besar—yang landai didekat situ.

“Kau akan memburuk sepertiku dalam waktu kira-kira enam bulan. Kemudian kau tidak akan peduli apapun kecuali tidur. Tidur akan menjadi seperti wanita bagimu, segar, bagus, dan setia,” lelaki tua itu berusaha keras meletakkan badannya dalam posisi yang nyaman di lereng landai. Tangannya susah payah menyangga badannya, satu kakinya menekuk, kaki yang lain mencari-cari pijakan yang tepat. Akhirnya ia berhasil membaringkan badannya di tempat yang nyaman.

“Itu suatu pikiran yang bagus…”ujar lelaki tua itu akhirnya. Saul dapat melihat, tangan lelaki itu mencengkeram ulu hatinya. Meninggalkan lelaki tua itu yang telah menemukan tempat yang nyaman, Saul berjalan terus.

Perhatiannya terpecah oleh suara yang dikenalnya, ia menoleh. Logam cerah tampak melesat di langit. Semenit kemudian, roket itu mendarat di permukaan laut mati yang datar. Seorang lelaki melangkah keluar, membawa barang-barangnya. Dua lelaki yang lain dalam pakaian bebas hama—kedap udara menemaninya, mengeluarkan peti-peti makanan sangat besar, menegakkkan sebuah tenda untuknya. Menit berikutnya, roket kembali lagi ke langit.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: