Sang Pengunjung (Part 2)

29 04 2008

“Jadi inilah Mars.” kata lelaki itu, mengamati sekelilingnya dengan pandangan tertarik.

“HALO! HALO!” teriak Saul bahkan sebelum dia cukup dekat untuk membiarkan lelaki itu mengetahui keberadaannya. Saul bergegas –-hampir berlari—dengan gembira mendekati lelaki itu. Seorang lelaki muda berambut pirang dengan mata sendu namun sikapnya riang.

”Halo. Namaku Leonard Mark.” sahutnya.

“Aku Saul Williams. Bagaimana segala sesuatu di New York?”jawab Saul antusias.

“Seperti ini.” Ia mengangkat dan merentangkan kedua tangannya sebatas bahu.

Dan tiba-tiba, tanpa disangka-sangka New York keluar begitu saja dari gurun, terbuat dari batu dan dipenuhi dengan angin bulan Maret. Neon-neon terpecah dalam warna-warni elektrik. Taksi-taksi berwarna kuning meluncur dalam kegelapan malam. Jembatan-jembatan timbul dan kapal-kapal penarik berlabuh di pelabuhan-pelabuhan tengah malam. Tabir-tabir bermunculan dalam kelap-kelip berirama. Gedung-gedung tinggi dengan papan-papan reklame berwarna-warni tampak jelas dan nyata, senyata karat darah.

“APA YANG TERJADI PADAKU? APA YANG SALAH DENGANKU? AKU MENJADI GILA! HENTIKAN! INI TIDAK MUNGKIN!” teriak histeris Saul dari mulutnya, mencengkeram kedua samping kepalanya. New York begitu nyata, sangat nyata, sehingga ia tak mampu untuk mempercayainya, tidak disini –-di Mars.

”Memang begini.” kata Leonard Mark tenang, senyum sendu terpampang di wajahnya.

Dan dengan tiba-tiba pula-sama seperti datangnya –- menara-menara New York lenyap. Saul berdiri di permukaan laut mati yang kosong, menatap lemah pada pendatang baru yang masih muda.

”Kau yang melakukannya. Kau melakukannya dengan pikiranmu.” Saul masih tampak tak percaya. Dengan tenang Leonard Mark menjawab “Ya.”

Saul memandangnya lekat-lekat tanpa kata-kata. Akan tetapi dia menyadari, daripada terus memandangnya, lebih baik mengatakan sesuatu.

“Oh, tapi aku senang kau ada disini. Kau tidak bisa tahu betapa gembiranya aku!” Saul menjabat tangannya dengan hangat.

●●●

Saat itu senja hari, matahari hampir tenggelam. Mereka melewati sepanjang pagi hari yang hangat dengan bercakap-cakap.

“Dan kemampuanmu?” tanya Saul.

“Itu adalah sesuatu yang kudapatkan sejak lahir. Ibuku saat itu berada di pusat kota London tahun ’57. Aku lahir sepuluh bulan kemudian.“ jelas Leonard Mark.

Diluar tenda Leonard –-tenda dengan warna hijau yang sama seperti milik Saul, tapi jelas tidak tampak kusam— yang telah membongkar barang-barangnya dan menyalakan api diluar tendanya, mereka berdua bercakap-cakap sambil menghangatkan diri menjelang malam yang turun perlahan-lahan.

“Aku tidak tahu bagaimana kau akan menyebutnya. Telepati dan transfer pikiran, kurasa. Aku telah terbiasa melakukan aksi pertunjukan di Bumi. Kebanyakan orang berpikir aku adalah tukang obat. Aku tidak membiarkan setiap orang tahu bahwa aku memang benar-benar asli. Lebih aman untuk tidak membiarkannya beredar terlalu luas,” Leonard menjelaskan kemampuannya yang unik sambil memiringkan sebagian badannya bertumpu pada lengan.

To Be Continued….


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: