Che movie

29 05 2008

Tahu Che Guevara? Jangan bilang gak tahu, padahal selama ini kemana-mana pakai kaos bergambar fotonya, nempel poster dan stikernya di mana-mana(aku sih gak..)! Gimana? Sudah tercerahkan?Oh..jadi laki-laki yang berjenggot, pake topi pet bergambar bintang merah itu namanya Che Guevara to? Jawabanya..Bukan! karena nama aslinya Ernesto Guevara, Che itu cuman nama panggilan aja!Salah satu adegan

Setelah menunggu-nunggu kabar yang jelas tentang perkembangan pembuatan film tentang Che, yang judulnya pun berubah-ubah, dari Che, Guerilla, entah apa lagi, akhirnya muncul juga film yang satu ini(atau lebih tepatnya ‘dua’?). Disutradarai oleh Steven Soderbergh(Ocean’s Eleven, Ocean’s Tweleve, Ocean’s Thirteen, The Good German, Solaris –deretan film2 George Clooney kayaknya?), serta dibintangi oleh Benicio Del Toro(21 Grams, Sin City) sebagai (siapa lagi kalau bukan) Ernesto ‘Che’ Guevara, nyatanya scriptwriter Peter Buchman membuat dua naskah yang memiliki judul The Argentine dan Guerilla. Kedua naskah tersebut berhubungan. Naskah pertama, seperti disebutkan oleh Jeffrey Wells dalam artikel yang berjudul Lawrence of Latin America pada situs The Huffington Post, adalah
about Che and Fidel Castro’s battle against the forces of Cuban dictator Fulgencio Batista from their boat journey from Mexico to Cuba in 1956 until late ’58 when they finally won the Cuban revolution.
Sedangkan naskah kedua, Guerrilla bercerita
about how Guevara’s revolutionary fervor led him to abandon his Cuban government comforts and embark upon a failed attempt to spark a revolution in Bolivia in late 1966 and ’67. It’s a story about failure, isolation… listening more and more to the sounds of your own rhetorical spinnings to the exclusion of real-world goblins, and finally being shot to death in a rural schoolhouse by a drunken Bolivian soldier.
Ditambahkan oleh Wells bahwa:
The former is about heart, tenacity and triumph; Guerrilla is the same fight minus the wind in the sails.

Sebenarnya agak mengherankan juga, mengapa dibuat menjadi dua film. Entah karena durasinya terlalu panjang ataukah dianggap ceritanya cukup masuk akal untuk dibuat terpisah. Namun dalam Festival Film Cannes 2008 kemarin, kedua naskah yang telah dilensakan tersebut diputar berurutan dalam satu sesi pemutaran selama lebih dari 4 jam, The Argentine diikuti Guerilla dengan 1 judul: Che.(wikipedia). Bahkan Steven soderbergh, si sutradara, memiliki rencana supaya kedua film tersebut diputar berurutan secara berurutan dengan jangka waktu satu minggu satu sama lain.

Adegan yang lainSekedar bocoran, selain Benicio Del Toro memang dianggap paling ‘pantas’ untuk memerankan Che, ternyata Bencio Del Toro sendiri merupakan salah satu dari produser film ini. Namun yakinlah, film ini bukanlah sekedar fiksi yang -biasanya- agak meragukan. Soderbergh dikabarkan telah melakukan riset dengan melakukan wawancara terhadap orang-orang yang pernah berjuang dengan Ernesto Guevara. Selain itu sutradara ini juga membaca buku-buku dan literatur untuk mendapatkan gambaran yang tepat terhadap fakta dan kondisi baik dari Kuba maupun Bolivia.

Reaksi dari kalangan kritikus dan wartawan terhadap Che bermacam-macam pada saaat pemutaran Che di Cannes. Rata-rata memuji kualitas filmnya sendiri yang disebut-sebut sebagai biohistorical epics, dan disetarakan dengan film-film besar semacam Lawrece of Arabia(yang dibintangi pemeran Hamzah dalam The Message, Anthony Quinn) dan Reds, beberapa memuji pemilihan Benicio Del Toro sebagai main actor. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Che doesn’t feel epic – just long-Che kurang berasa epik, hanya laaamaaa(ciri yang memang lekat dengan film-film epik, macam Gladiator, Troy, Alexander, yang durasinya cukup lama dan membuat mata lelah-terutama kalau alurnya datar-datar saja), ada pula yang menganggap bahwa penampilan Del Toro kurang ‘wah’ dibanding penampilannya yang biasa dan untuk jenis dan tema film sebesar ini, terlebih karena penggambaran karakter Che yang beberapa menganggap ‘kurang’. Bagaimanapun juga, Del Toro diganjar Prix d’interpretation masculine(Best Actor) pada Festival Cannes dalam penampilannya dalam kedua film tersebut sekaligus.

Sekalipun distributor dari Perancis, UK, Skandinavia, Italia, Jepang (Nikkatsu), dan Twentieth Century Fox sudah membeli versi Spanyol dan home video rightsnya, namun belum ada kepastian ada permintaan dari distributor US. Rupanya dengan banyaknya film baru yang sedang tayang, distributor tidak yakin berapakah penonton yang rela menghabiskan waktu lebih dari 4 jam untuk menonton sebuah film berbahasa Spanyol tanpa subtitle Bahasa Inggris terutama tentang Che Guevara? Apalagi, mengutip kalimat Jeffrey Wells:
Especially given their reluctance to support even Quentin Tarantino and Robert Rodrigeuz’s Grindhouse, a two-part, three-hour popcorn movie about hot women, zombies and car chases?
Distributor juga masih mengkhawatirkan kemungkinan efek sosial yang muncul, karena keberadaan populasi Kuba di beberapa bagian US.

Melihat jajaran castnya, selain Benicio del Toro sebagai Ernesto ‘Che’ Guevara, ada Benjamin Bratt, Demian Bichir (sebagai Fidel Castro), Catalina Sandino Moreno, Julia Ormond (sebagai aktris dan reporter Lisa Howard), Franka Potente sebagai pendukung dan kader Guevara Tamara Bunke, Benjamin Benitez sebagai teman di pertempuran Guevara Harry “Pombo” Villegas dan Lou Diamond Phillips sebagai Mario Monje, Secretaris-Jenderal dari Communist Party of Bolivia yang menurut dugaan orang mengkhianati Guevara. Kita juga dapat melihat penampilan Santiago Cabrera di sini yang bermain sebagai Camilo Cienfuegos, yang terakhir kali penampilannya sebagai Octavius kulihat di miniseri Empire yang beberapa waktu lalu diputar di salah satu TV Nasional, terakhir kita lihat pula dalam serial Heroes sebagai Isaac Mendez.

Yang mengherankan adalah hilangnya nama aktor Ryan Gosling, yang pada awal rencana pembuatan dikabarkan telah memperoleh satu peran dalam film ini. Pernah pula terdengar kabar bahwa Gosling dan Del Toro sempat bersama-sama berencana untuk mengunjungi hutan di Bolivia, untuk ‘learn a few survival skills first-hand’untuk film Guerilla(imdb.com). Padahal, kalau menurutku, sayang sekali Gosling tidak ikut dalam proyek ini, apalagi setelah dinominasikan dalam Academy Award karena penampilannya dalam Half Nelson(sayangnya, di Indonesia film ini gak ada….padahal bagus…).

Entah apakah film ini akan diputar di sini atau tidak. Bagiku ini tidak berpengaruh, karena aku lebih memilih nonton di rumah. Siapa tahu malah DVDnya keluar duluan. Seperti ketika film Downfall(Der Untergang) dulu, DVDnya keluar dulu, baru beberapa saat setelah itu mulai diputar di bioskop. Yah, kalau menurutku film ini lebih berharga daripada film-film macam Grindhouse yang isinya tipikal banget(walaupun Quentin tarantino sebagai sutradara memiliki visi yang unik, tapi sayang, cenderung banyak ‘tabrakan’ dan bloody).

Sumber:

http://www.cinematical.com/2008/05/21/cannes-review-che/

http://en.wikipedia.org/wiki/Guerrilla_(film)

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Argentine

http://www.festival-cannes.fr/en/archives/ficheFilm/id/10803637.html

http://www.huffingtonpost.com/jeffrey-wells/lawrence-of-latin-america_b_99302.html





Sang Pengunjung (Part 5)

28 05 2008

Hingga dinihari, perdebatan dan kekejaman terus berlangsung. Mark telah membuat sebuah balai sidang berdinding mahogany dan sebuah meja marmer dimana mereka semua duduk mengelilinginya, berjenggot menggelikan, berbau busuk—bau kejahatan, lelaki-lelaki berkeringat dan serakah, dengan mata mengarah ke harta mereka. Mark memimpin ‘sidang’ itu, menjelaskan.

“Cara untuk mengaturnya adalah untuk setiap dari kalian akan mempunyai jam-jam tertentu pada hari-hari tertentu. Aku akan memperlakukan kalian semua sama. Mari kita lihat sekarang……” Mark berbicara, wajahnya keras dan tegas, ujung jari-jari kedua tangannya bertautan.

“Hari Senin, Smith. Selasa, aku akan menerima Peter dan aku akan menyelesaikannya dengan Johnson, Holtzman, dan Jim pada hari Rabu,” lanjutnya.

“Dan untuk Saul, dia dalam masa percobaan hingga terbukti dia dapat menjadi bagian dari kelompok sekali lagi,” wajah Saul tertunduk kecut, kesenduan dan kemuraman memenuhi matanya.

“Hingga saat itu, aku tidak akan melakukan sesuatu pun terhadapnya,” wajah-wajah rakus dan serakah tersenyum licik, menyeringai penuh kepuasan.

“Akhir minggu, aku harus benar-benar sendiri. Jika kalian tidak menurut, aku tidak akan tampil untuk semua. ” Mark mengakhiri keputusannya.

Seorang lelaki dengan mata licik dan wajah kotor, jelas sekali belum bercukur selama beberapa hari berseru,

“Mungkin kami akan MEMBUATmu tampil.”

“Dengar, kita berlima melawan dia seorang. Kita bisa membuat dia melakukan apapun yang kita mau,” lanjutnya.

“Jangan bodoh,” kata Mark bosan dan mencela, wajahnya makin keras menghadapi orang-orang itu.

“Dia memberitahu kita apa yang akan dia lakukan. Mengapa kita tidak memberitahuNYA? Kita lebih besar dari dia, kan?” seru lelaki tadi, hampir berteriak ke arah kumpulan orang-orang.

“Jangan dengarkan dia. Dia sinting. Kalian tahu apa yang akan dilakukannya, bukan?” seru Mark.

“Dia akan menyingkirkan kalian semua- mengawasi kalian dan membunuh kalian satu persatu.”

“Dan yang membuat segalanya menjadi lebih buruk, SALAH SATU DARI KALIAN punya senjata!” Mark menambahkan, menyadarkan mereka akan kenyataan pahit.

“CARILAH! TEMUKAN SATU DI ANTARA KALIAN YANG MEMILIKI SENJATA ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI!” teriak Mark. Wajah-wajah lusuh serakah saling berpandangan, yang satu mencurigai yang lain.

Hal itu memicu mereka untuk saling serang. Dalam waktu sekejap mata, mereka saling bergumul, pukul-memukul. Keadaan menjadi kacau balau. Johnson menjauh, tangannya merogoh sesuatu di balik jaketnya.

“Baiklah kalau begitu. Kau, Smith……” dan Johnson, lelaki licik tadi, mengacungkan senjata ke arah Smith, lelaki lainnya. Senjata meletus, noda merah merembes cepat dari dada Smith membasahi bajunya, wajahnya ketakutan. Letusan terdengar lagi, diikuti letusan ketiga.

“Berhenti!” seru Mark, tangannya terangkat ke udara. New York membubung naik di sekitar mereka dari bebatuan dan gua dan langit. Matahari berseri di menara tinggi. Mesin-mesin menderu; kapal-kapal penarik bergerak ke pelabuhan.

”LIHATLAH, KALIAN ORANG-ORANG BODOH!” teriak Saul. Dan, di pusat kota New York, kebingungan, lelaki-lelaki itu terus melakukan kesalahan karena kebodohan mereka.

Saul berlari mendekat, menyerang Johnson yang kaget dan terpental, berkelahi untuk mengambil senjata. Sebelum Saul sempat meraihnya senjata itu meletus lagi, mengeluarkan asap dari moncongnya.

Mereka berdiri terdiam. Mereka berhenti bergelut. Yang ada hanya kesunyian mencekam. New York tenggelam jatuh ke laut, menciut, menggelembung perlahan seperti tarikan napas yang panjang, dengan tangisan dari logam yang runtuh, rusak dan saat-saat dari masa lalu. Bangunan-bangunan besar miring, bengkok, pecah, luruh, runtuh.

Mark berdiri di antara gedung-gedung, memegangi dadanya dengan kedua tangan. Seperti gedung-gedung yang mengelilinginya……sebuah lingkaran yang rapi berwarna merah merembes ke dadanya. Tanpa kata-kata, ia jatuh.

to be continued…(almost close)-





What My Front Door Says

28 05 2008

Pilih warna pintu rumah? Sebenarnya aku pingin pilih coklat, tapi gak ada di pilihannya. Jadi ya, aku pilih warna putih aja….Hasilnya? Neeh…


What Your Front Door Says


You have simple tastes.

You like the classic basics, especially when they’re done well.

Lots of space in your life is very important.

You don’t like physical or mental clutter.





Hati-hati tunjuk jari

28 05 2008

Jika seseorang menunjukkan jarinya pada orang lain, seharusnya dia sadar bahwa keempat jarinya yang lain menunjuk pada dirinya.

-Louis Nezer-

Watch out your finger!





(hampir)Kekancingan(lagi)

27 05 2008

Aku sudah pernah menulis tentang Tragedi Kekancingan di blog lama q, yang terjadi kira-kira setahun yang lalu. Nah, kemarin sore aku dan Ratna hampir saja kekancingan(lagi), kali ini di gedung Graha Sainta(GS) yang terletak tepat di depan gedung Biomol(BM), lokasi Tragedi Kekancingan tahun lalu.

Ceritanya?

Begini, setiap Hari Senin kami kuliah Manajemen Jaringan jam 3 kurang seperempat. Kuliah kali ini pas diisi dengan presentasi kelompok tentang SNMP(Simple Network Manajemen Protokol), lebih tepatnya tentang berbagai tool dan aplikasi Network Monitoring yang sifatnya open source, seperti Cacti, Ntop, Wireshark, Libsmi, RRDTool, dan lain-lain(daftar bisa dilihat di sini). Kuliah selesai pkl 16.20, aku dan Ratna, yang memang tidak sempat sholat Ashar sebelum kuliah, segera cabut menuju musholla di Lt.2. Alhamdulillah, musholla sepi, berarti gak perlu antri.

Kami berdua segera sholat berjamaah, dilanjutkan dengan aktivitas setelah sholat. Biasanya jam segitu masih ada petugas kebersihan yang membereskan ruangan-ruangan dosen sekaligus mengecek kunci. Kami santai-santai saja di mushola, berpikir bahwa biasanya juga jam segini masih ada orang. Keluar dari musholla, kami turun ke lantai satu. Tapi..lho kok? Pintu depan dan belakang pada ditutup? Kami cek pintu depan sekali lagi, ternyata terkunci. Di balik pintu belakang(yang terbuat dari kaca) terlihat beberapa anak duduk-duduk, entah menunggu apa. Rupanya mereka belum menyadari bahwa di dalam gedung ada orang yang kekancingan(yang tidak lain adalah aku dan Ratna!). Kucoba mengecek apakah pintu samping sebelah timur bisa dibuka, sayangnya tidak! Pintu samping sebelah barat memang sengaja tidak kami cek, karena biasanya selalu terkunci.

Bagaimana ini? Akhirnya Ratna memutuskan untuk mengirim sms ke Data, teman kami yang biasanya betah di kampus, berharap dia masih stand by di PPE. Maksudnya, untuk meminta tolong agar dicarikan orang/satpam yang bisa menolong kami. Sementara itu, aku memutuskan untuk mengecek ke lantai 2, siapa tahu masih ada orang, entah yang ikut kekancingan juga(sapa tau…) atau (yang lebih baik lagi) petugas kebersihan yang membawa kunci gedung GS. Kulihat pintu samping timur lantai 2 terbuka lebar!! Alhamdulillah….Rupanya kali ini kami tidak jadi kekancingan! Kami tadi memang tidak menengok ke arah itu, karena tidak ada dugaan lantai 1 telah dikunci. Segera saja kupanggil Ratna, yang tidak jadi meminta bantuan ke teman kami. Cepat-cepat kami keluar(saat itu sudah jam 5 sore), dan merasakan udara segar yang berhembus dari pepohonan di sayap timur gedung GS…Ahh(sekali lagi)……Alhamdulillah…

Bayangkan saja kalau kami berdua–saja!!–harus nginep di kampus…Masih mending tragedi tahun lalu, yang kekancingan 1 kelas, plus masih ada Dosen pula!

Segarnya...

Pemandangan taman sayap timur gedung Graha Sainta FMIPA, Sejuk…tapi kok?