Sang Pengunjung (Part 3)

9 05 2008

“Kau benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. Ketika New York keluar dari tanah di depan mataku dengan cara seperti itu, aku berpikir aku pastilah sudah sinting,” Saul menjelaskan, memegang cangkir kopinya dengan kedua tangan.

Asap masih mengepul dari api unggun dihadapannya. Di seberangnya, Leonard Mark bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan sekarang, lebih dari segalanya?”

Saul meletakkan cangkirnya. Ia mencoba untuk menggenggam kedua tangannya dengan tenang. Dia membasahi bibirnya. Menatap langit yang berangin lembut, ia menjawab, “Aku ingin berada di teluk kecil dimana aku biasa berenang didalamnya di Mellintown, Illinois ketika aku masih kanak-kanak,“ ia menerawang. Saul jatuh ke pasir, matanya terpejam. Dari waktu ke waktu, tangannya bergerak-gerak, menyentak-nyentak bersemangat. Leonard menghirup kopinya dalam diam.

Saul mulai membuat gerakan-gerakan pelan dengan kedua lengannya, keluar dan kembali lagi, terengah-engah dengan kepalanya kesatu sisi. Kedua lengannya datang dan pergi perlahan dalam udara hangat, mengaduk pasir hangat dibawah tubuhnya yang bergerak perlahan terus-menerus, lagi dan lagi.

“Baiklah,” kata Leonard tiba-tiba. Saul bangkit dan duduk, mengusap wajahnya.

“Aku melihat teluk itu. Aku berlari di tepinya dan melepaskan pakaianku,” katanya masih menerawang, mengusap wajahnya.

“DAN AKU TERJUN KE DALAM DAN BERENANG MENGARUNGI-NYA!” Saul berteriak sambil merentangkan kedua tangannya.

“Aku senang,” sahut Leonard, masih duduk tenang memandangi teman barunya. Saul merogoh-rogoh kantong lusuhnya yang isinya tak seberapa.

“Ini,”serunya ketika menemukan apa yang dicarinya.

”Ini untukmu,” tangannya memegang sekeping benda persegi berwarna coklat seukuran telapak tangannya. Leonard mengamati apa yang dipegang Saul dengan teliti.

“Apa ini? Cokelat?” Leonard mengangkat kedua tangannya kedepan.

“Nonsense. Aku tidak melakukan ini untuk dibayar. Letakkan benda itu kembali ke dalam kantongmu sebelum aku mengubahnya menjadi ular derik dan ia menggigitmu,” ia tersenyum.

Masih memegang cokelatnya, Saul berkata “Terima kasih. Terima kasih. Kau tak tahu betapa nikmatnya air itu tadi,” Ia memasukkan cokelatnya kembali kedalam kantongnya.

“Kopi lagi? Apakah kau mau kop….” perkataan Saul terhenti. Di kejauhan, di ujung cakrawala terlihat titik-titik kecil bergerak. Titik-titik kecil itu mendekat, makin jelas memberikan bentuk sekelompok orang yang berjalan bersama-sama di bawah matahari yang tampak dingin di langit merah.

Mata Saul melebar. Ketakutan terbayang di pupil matanya yang merah.

“Ada apa?” tanya Leonard keheranan.

Lelaki-lelaki yang lain, lelaki-lelaki yang sakit yang lain berjalan sepanjang laut mati itu. Mereka tampaknya berjumlah kira-kira 5-6 orang, namun bisa jadi lebih banyak. Berpakaian sama lusuhnya seperti Saul. Saul merasa dirinya terguncang. Lelaki-lelaki yang lain telah melihat roket melesat. Sekarang mereka datang menyambut munculnya pendatang baru. Saul terpaku, badannya terasa dingin.

“Lihat Mark…..kurasa lebih baik kita menuju ke pegunungan,” Ia berkata, wajahnya memancarkan kepanikan. Mata merahnya menyatakan kecemasan dan ketakutan.

“Mengapa?”tanya Leonard, wajahnya bertanya.

“Kau lihat orang-orang yang datang itu? Sebagian dari mereka GILA!” jelas Saul, panik.

“Benarkah?” Leonard tampak sangsi.

“Ya!” jawab Saul–-cepat dan tegas.

“Mereka tidak terlihat terlalu berbahaya,” Leonard masih berusaha.

“Kau akan terkejut,” sahut Saul, mencengkeram baju Leonard.

“Kau gemetar. Kenapa itu?” Leonard masih juga bersikeras.

“Apakah kau tidak menyadari, mereka akan berkelahi denganmu……… membunuh satu sama lain……membunuhMU demi hak untuk memilikimu? Kita tak punya waktu lagi untuk berdebat! AYOLAH!” Saul berteriak marah, wajahnya ketakutan–-sangat ketakutan.

“Aku akan duduk disini hingga orang-orang itu menunjukkan yang sebenarnya. Kau terlalu possesif. Hidupku adalah milikku,” Leonard tampak enggan. Saul makin tak sabar “Dengarkan aku,” serunya.

Leonard mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi kedepan wajahnya. Dan New York pun muncul kembali dari tanah, dengan warna-warni yang sama seperti tadi. Sebuah bus berjalan mendekat tepat didepan Saul, sorot lampu depannya yang berwarna kuning menyorot wajah Saul.

“Ini semua BOHONG! Demi Tuhan, Jangan Mark! Mereka akan segera sampai! Kau akan terbunuh!” Saul berteriak, berdiri di tengah-tengah jalanan New York di malam hari.

“Biarkan mereka datang. Aku akan membodohi mereka semua,” jawab Leonard tenang, duduk santai di tepi jalanan New York, di bawah papan-papan reklame toko-toko.

“TIDAK!” Saul terhuyung, memejamkan matanya. Berusaha keras menolak keberadaan New York yang begitu nyata. Tangannya mengagapai-gapai sesuatu, akhirnya tangannya mengepal, menghantam rahang Leonard. Darah tersembur keluar dari mulut Leonard.

Ketika New York telah pergi menghilang, yang ada hanyalah keheningan luas laut mati. Saul berdiri menatap tubuh Leonard yang tergeletak pingsan di pasir hangat. Kedua tangannya masih terbentang di sisi-sisi tubuhnya yang terlentang jatuh, kakinya setengah tertekuk. Saul mengangkat tubuh Leonard dengan kedua tangannya, membawanya menjauh.

Lelaki-lelaki tadi makin mendekat ke arahnya. Ia menuju ke perbukitan dengan kargonya yang berharga, dengan New York dan pedesaan hijau dan musim semi yang segar dan teman lama di pelukan kedua lengannya.

Ia tidak berhenti berlari.

●●●

to be continued…–


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: