Badai Singkong

26 06 2008

Alhamdulillah, ALLAH memberikan rezekiNya dalam bermacam bentuk dan cara.

Beberapa hari yang lalu, Ibuku membeli singkong dari pedagang singkong langganan yang biasa lewat di depan rumah. Eh, entah karena apa, si pedagang memberi singkong lebih banyak dari yang diminta. Ibu pun menerima dengan senang hati, karena singkong sudah menjadi makanan pokok kedua keluarga kami. Ya, singkong yang disebut-sebut orang di negeri ini sebagai tongkat yang ditancapkan sembarangan saja bisa tumbuh(padahal ini tidak sepenuhnya benar, sebab menancapkan batang singkong tidak boleh terbalik, karenanya tidak bisa sembarangan). Singkong bagi kami adalah makanan yang amat berharga dan mewah, bukan karena harganyal(mahal???yang jelas tidak), tetapi karena singkong di rumah kami selalu berbentuk makanan yang nikmat.

Karena biasanya kami suka makan singkong goreng, maka digorenglah singkong tersebut. Pertama-tama, singkong yang telah dikupas direbus terlebih dulu, baru kemudian digoreng. Dengan cara ini, singkong yang digoreng akan lebih empuk dan meresap bumbunya, dan lagi jika ada di antara kami yang ingin memakan singkong rebusnya langsung, maka itu pun sudah tersedia.

Karena banyaknya singkong yang ada, maka setengah dari rebusan singkong digoreng di pagi hari, dan sisanya digoreng untuk sore nanti. Namun karena yang digoreng pagi pun cukup banyak, maka Ibu pun memintaku untuk membawa bekal singkong goreng ke kampus. Wah, aku tentu saja dengan antusias menuruti kata-kata Ibu. Hampir setengah piring besar singkong goreng masuk ke plastik ukuran 1 kg sementara masuk backpackku. Lumayan, bisa buat camilan untuk ngerjakan tugas sama anak-anak ntar, pikirku. Dan hasilnya? Alhamdulillah, singkong gorengku pun laris(hehe..meski banyak juga singkong goreng yang masuk ke perutku sendiri, bukan ke perut teman-teman).

Sore harinya, singkong goreng (dan juga sedikit singkong rebus) kembali menyambut kepulanganku. Asyik nih…sambil istirahat santai, makan singkong(lagi).

Rupanya ‘badai singkong’ belum berhenti juga. Keesokan harinya, seorang kawan Bapak datang membawa oleh-oleh singkong sebanyak…..2 kilogram!!! Wah, wah, wah….mau dibikin apa lagi ini? Rupanya Ibu tidak kekurangan akal. Singkong-singkong ini harus segera diolah, karena kalo dibiarkan agak lama bisa berserabut dan tidak enak lagi(dalam bahasa Jawa, istilahnya: mbuki). Maka, hari itu sebagian singkong diolah menjadi makanan tradisional dari parutan singkong yang diisi gula merah kemudian digoreng, dikenal dengan nama jemblem. Jemblem yang dihasilkan mencapai 2 piring besar, malah sebagian disajikan pada tamu Bapak yang datang malam itu. Bagaimana dengan sisanya? Ibu toh sudah punya rencana, sebagian akan digethuk(singkong direbus, dihaluskan, dan dicampur gula) dan sisanya akan dilemet(singkong diparut, dicampur dengan gula pasir atau gula merah, untuk selanjutnya dibungkus dengan daun pisang dan dikukus). Dari kedua makanan ini, lemet lebih tahan lama, maka Ibu memilih untuk membuat gethuk terlebih dulu. Ada saja cara Ibu untuk membuat satu bahan menjadi makanan lezat beraneka ragam, apalagi: bergizi!


Actions

Information

11 responses

26 06 2008
achoey sang khilaf

wah enaknya
bagi donks😀

27 06 2008
isnuansa

jadi pengen gethuk…

28 06 2008
edratna

Kalau masih banyak bisa dibuat tape singkong….enak dimakan begitu aja, atau dibuat kolak…atau dibuat kue (prol tape).

28 06 2008
sagung

Kapan ya badai duit ?? Duit kertas, jangan duit receh

30 06 2008
danoe87

Pengeen…. mau dong kalo bawa ke kampus… terutama yang baru goren-menggoreng maklum anak perantauan ga ada yang nyiapin bekal hehehe soalnya kalo nyiapin bekal dulu bakal telat terus kuliahnya😀

1 07 2008
yunoume

ku ska singkong yang direbus trus ditambah gula merah.namanya apa ya?
jadi, singkongnya te2p besar2,tpada kuah gula merahnya..enak..

4 07 2008
bangzenk

sepakat gethuk!!
kirim ke belanda nyak!!

salamhangat
berbagi cerita, berbagi suka duka

5 07 2008
swamp

2 achoey: Mau sih bagi2…resepnya udah dikasih kan? Silakan aja coba sendiri….

2 isnuansa: Idem dengan achoey..kalau mau silakan aja dicoba…

2 Bu Enny: Terima kasih atas sarannya Bu..

2 sagung: Kapan itu kan ada badai duit dari Tung Desem Waringin, cuman ya gitu…duit seribuan aja…trus cuman di beberapa tempat aja…

2 danu: maunya sih Dan…kalo ada langganan tetap di kampus, boleh sih, biar jelas pasarnya….mau?

2 mega: wah kurang tau tuh Meg, kok kedengaran kayak kolak ya? tapi minus santan…

2 bangzek: Mau sih diimpor segala, mungkin bikin gethuk dikeringin, trus ntar tinggal dikukus, gitu kali ya? Jadi gethuk instant deh! Btw..salam hangat balik…..

5 07 2008
agoezi

Gethuk…kapan aku bisa mencicipimu lagi,he13x…

5 07 2008
swamp

2 agoezi: emang cari gethuk susah ya?

8 07 2008
sagung

sayang, badai singkongnya nggak mampir ke kos saya. Aaaahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: