Message In The Bottle

26 07 2008

backsound: Message In a Bottle by John Mayer

Dan di sinilah aku

Terbuang dalam dua biru

Terpaku pada batu dan bau

(Just cast away and I am lost at sea
Another lonely day and no one here but me
More loneliness than any man could bear
Rescue me before I fall into despair)

Read the rest of this entry »

Advertisements




Nilai Praktikum Basis Data I Kelas A dan B

21 07 2008

Berikut ini merupakan nilai praktikum Basis Data I Kelas A dan B. Semoga memuaskan ya…Jika ada komplain, silakan aja comment di sini ya. Maaf telah menunggu lama.

Kelas A

No.

NIM

NA

1. 0610960004 B
2. 0610960006 C+
3. 0610960021 B+
4. 0610960029 B+
5. 0610960033 B+
6. 0610960042 B+
7. 0610960057 B
8. 0610960058 B
9. 0610960063 B+
10. 0610960066 B+
11. 0610960069 B
12. 0610963009 B+
13. 0610963043 C+
14. 0610963045 C+
15. 0610963047 C
16. 0610963051 B+
17. 0610963059 B
18. 0610963066 B
19. 0610963067 C+
20. 0610963071 B+

Kelas B

No.

NIM

NA

1. 0610960010 B
2. 0610960032 B+
3. 0610960036 C+
4. 0610960044 B+
5. 0610960050 B+
6. 0610960056 B
7. 0610960059 B
8. 0610960060 B
9. 0610960064 B
10. 0610963008 C+
11. 0610963010 C+
12. 0610963012 B
13. 0610963014 C+
14. 0610963027 B
15. 0610963033 B
16. 0610963044 C+
17. 0610963058 C+
18. 0610963060 C+
19. 0610963064 B+




2008 Open Source CMS Award

17 07 2008

Mencari CMS open source terbaik? Bukan hal yang mudah jika jumlahnya amat banyak. Sekali lagi, Packt mengadakan OS CMS Award yang, sebagaimana dinyatakan dalam official website mereka, bertujuan untuk mendorong, mendukung, dan menghargai Open Source Content Management System (CMS) yang telah dipilih oleh sekelompok juri dan pengunjung di www.PacktPub.com. Artinya, kita dapat ikut berkontribusi dalam pemilihan tersebut dengan langsung mengujungi situs resmi Packt dan menyumbangkan suara kita untuk OS CMS pilihan kita.

Sebagaimana tahun lalu, kategori lomba terdiri dari Overall Winner, Most Promising Open Source CMS, Best Open Source PHP CMS, dan Best Other Open Source CMS, hanya 1 kategori yang rupanya hilang yaitu Best Social Networking Open Source CMS. Untuk keterangan lebih lengkap tentang ketentuan lomba dan hadiahnya, dapat dilihat di sini.

Jika tahun lalu CMS Made Simple terpilih menjadi Overall Winner, diikuti finalis lain yang terdiri dari Drupal, e107, Joomla!, dan PHP-Fusion, maka tahun ini persaingan makin ketat dengan banyaknya CMS yang mendaftar, termasuk CMS baru(terbit maksimal 2 tahun yang lalu) maupun CMS veteran. Sekalipun di Indonesia Joomla! lebih populer dibandingkan Drupal atau bahkan CMS Made Simple, namun nyatanya pemenang tahun lalu adalah CMS Made Simple(walaupun memang pada tahun 2006 Joomla! sempat meraih gelar ini). Namun sekali lagi, Anda dapat ikut menyumbangkan suara Anda dalam kontes ini, jadi jika Anda ingin menyuarakan suara hati anda siapa yang paling berhak menjadi CMS terbaik, silakan langsung kunjungi Packt Pub.

Bagaimana dengan WordPress? Tahun lalu WP berhasil finalis ke-5 dalam kategori Best Social Networking Open Source CMS. Bersanding dengannya (dari urutan 1 ke 4) adalah Drupal, Elgg, LifeType, dan Moodle. Daftar ini sempat menimbulkan tanda tanya, karena WordPress dan Lifetype dirasa lebih ke arah blog, bukan social networking CMS. Namun karena tahun ini kategori tersebut ditiadakan, maka persaingan yang lebih ketat akan terjadi di kategori lain.

Bagi Anda yang ingin tahu sekaligus mencoba berbagai macam open source CMS yang wira-wiri di jagad maya ini, saya rasa paling pas jika anda mengunjungi www.opensourcecms.com. Situs ini selalu mengupdate daftar CMS-nya, sekaligus menyediakan online demo sehingga pengunjung dapat mencoba langsung (CMS yang manapun!) serta menyediakan link untuk download. Kita juga dapat memberikan komentar terhadap CMS yang kita coba dan melihat komentar orang-orang yang pernah menggunakannya. Di situs ini CMS dikelompokkan dalam kategori Portals, Blogs, e-Commerce, Groupware, Forums, e-Learning, Image Galleries, Wiki, Lite, dan Miscellaneous. Siapa tahu Anda mendapatkan andalan baru untuk dipilih dalam OS CMS Award.

Sekedar bocoran, dalam artikel Review of open source content management systems yang terbit dalam newsletter Adobe bulan April tahun ini, Tommi West mengeluarkan daftar Top CMS(yang tentunya semua open source) yang dianjurkan untuk pemula maupun bukan, dilihat dari segi kemudahan dan fleksibilitasnya. Daftar tersebut terdiri dari CMS Made Simple, Drupal, Joomla!, WordPress, dan XOOPS. Apakah daftar ini merupakan prediksi finalis tahun ini, kita lihat saja nanti saat pengumuman finalis pada awal September nanti. Sampai saat itu, kita masih berkesempatan memasukkan OS CMS pilihan kita dalam daftar finalis tahun ini.

Sources:

http://en.wikipedia.org/wiki/Packt

http://misguidedthoughts.com/482/packt-open-source-cms-award-finalist-list

http://www.packtpub.com/award

http://www.opensourcecms.com/

http://www.adobe.com/newsletters/edge/april2008/articles/article4/index.html





Byar Pet!

17 07 2008

Sudah beberapa bulan terakhir ini daerah kami terkena giliran pemadaman listrik, tidak hanya di lingkungan rumah, namun juga kampus. Yang jelas, setiap wilayah punya jatah sendiri-sendiri. Memang amat tidak menguntungkan bagi kami-kami yang “hidup”nya bergantung pada kompie, yang pastinya butuh listrik. Daerah yang terkena giliran biasanya berurut, jadi jika di kampung sebelah hari ini listrik padam, maka bisa dipastikan keesokan harinya giliran kampung kami. Yang lucu, rupanya jalur listrik antara kampung kami dengan jalan raya berbeda. Jadi kalau rumah kami gelap, masih diterangi dengan cahaya lampu jalan, sebaliknya pula jika listrik jalan raya padam, maka rumah di kampung kami seolah-olah menjadi mercusuar yang memandu kendaraan yang berlalu-lalang. Yah…inilah risiko(plus minus) punya rumah di tepi jalan besar.

Seperti yang sebelumnya kusebutkan, tidak hanya perkampungan penduduk saja yang menjadi sasaran pemadaman listrik, namun kampus dan kantor juga. Sebenarnya kalau pemadaman terjadi di daerah sekitar kampus, hal itu tidaklah mengherankan. Mengapa? Daerah sekitar kampus merupakan daerah super padat tidak hanya dengan kost dan kontrakan, namun juga dengan segala usaha kecil-kecil yang menjamur memenuhi kebutuhan penghuni kost dan kontrakan. Sebut saja, warnet, servis komputer, laundry, warung makan, warung minum yang jumlahnya tidak sedikit, bahkan menyemut di daerah sekitar kampus yang sempit itu. Maklum, daerah tersebut tidak hanya dekat dengan kampus kami, tapi juga dengan kampus ITN, UM, UMM, dan UIN, belum lagi berbagai kampus-kampus swasta lain. Namun apabila pemadaman terjadi di kampus, apa akibatnya? Yah, bisa dibayangkan..sedang asyik-asyiknya para praktikan mengerjakan tugas yang diberikan, eh tiba-tiba…byar—pet! Mati deh, gak hanya lampunya, tapi juga kompienya…walah-walah, ilang deh hasil kerjaan yang belum sempat disimpan. Bahkan di saat-saat terakhir praktikum, ujian akhir terpaksa dibatalkan karena datanya belum tersimpan, susah-susah…belajar dari situ, minggu depannya kutawarkan supaya UAPnya tulis tangan saja, lha mau gimana? Daripada di tengah-tengah listrik padam, mau menunda sampai kapan?

Memang di kampus kami ada sumber cadangan, namun hanya beberapa fasilitas penting saja yang disediakan, misalnya untuk perpustakaan. Kurang jelas apa di pusat jaringan kampus tersedia sumber cadangan, tapi sepertinya ada. Sedangkan di gedung jurusan kami, fasilitas semacam itu belum tersedia. Maka jika di kampus listrik padam, segeralah kami berbondong-bondong singgah ke kost-an teman, berharap di sana dapat meneruskan tugas yang belum selesai. Namun lebih dari tiga kali kami menemukan bahwa di kost-an teman yang terletak di dekat kampus listriknya juga padam, entah di tengah-tengah atau di saat-saat akhir(ini yang paling menyebalkan) ketika hasil pekerjaan terakhir belum tersimpan atau belum sempat dipindahkan. Jika sudah begini, maka notebook pun kehilangan kelebihannya. Padahal tugas harus segera dikumpulkan, sementara belum tentu dosen menerima alasan yang kita berikan(yang memang amat klasik, yaitu listrik mati!). Apalagi waktu padamnya listrik biasanya lebih dari 1 jam. Berdasarkan pengamatanku, jika di rumah pedaman berlangsung selama lebih kurang 2-4 jam(misalnya saja dari pkl 17.00-21.00 atau dari pkl10.00-12.00 ), maka di daerah kampus dan sekitarnya pemadaman biasanya lebih panjang(pernah sekali waktu listrik padam pkl 08.00 dan baru menyala lagi pkl 16.00, lain waktu listrik padam dari pkl 10.00 hingga 15.00). Pernah bahkan aku membaca dalam lembar lokal di koran, akibat pemadaman listrik yang cukup lama, sebuah warnet sampai rugi hingga ratusan juta. Wah, Pak..turut menyesal mendengarnya…kita juga mengalami kerugian, tidak berupa material sih, tapi berupa waktu dan kesempatan(untuk ngerjain tugas, hehe…).

Memang sih, Jawa Timur termasuk salah satu daerah yang asupan listriknya membengkak dan ini perlu diatasi. Namun apabila pemadaman berlangsung lama dan terus-menerus bisa-bisa banyak pihak yang rugi, tidak hanya fasilitas usaha atau pribadi, tetapi juga fasilitas umum, misalnya kantor-kantor pelayanan umum, yang merugikan orang banyak. Aktivitas jadi mandeg, waktu dan biaya pun terbuang sia-sia. Jadi kalau misalnya pemadaman dilakukan ketika malam hari(pkl 10.00 ke atas), tentunya masalah semacam ini bisa dihindari, atau minimal diperkecil. Mengapa pula tidak membatasi penggunaan listrik di tempat-tempat umum seperti lampu hias(kalau lampu penerangan jangan ya..), atau listrik di pusat-pusat perbelanjaan(lampunya gede-gede, banyak lagi!), kalau bisa malah tempat-tempat hiburan (bayangkan saja: karaoke, sound system, lampu-lampu sorot, dll, dsb yang terus-menerus diaktifkan) yang buka sepanjang malam itu ditutup saja, bukankah tempat semacam itu juga menghabiskan konsumsi listrik yang besar? Kalau dipikir-pikir, banyak listrik terbuang sia-sia untuk keperluan yang jauh dari penting. Sementara itu, fasilitas umum semacam rumah sakit, sekolah, dan kantor pelayanan publik yang untuk kepentingan orang banyak malah disisihkan, jangan ah!