Teliti Sebelum Membeli, eh, Memesan

9 01 2009

Siang itu, sebelum menuju ke kost-an teman untuk suatu keperluan, aku mengajak Fifin. “Fin, temenin aku maem dulu ya. Laper nih. Ntar takbeliin mimik wes,” kataku sambil memasang wajah licik, maksudnya mau menyuap😀. Fifin yang tergiur oleh minuman gratis di siang yang terik, mau saja(catatan: Fifin gak se-inosen itu kok!;)). Bagus, pikirku.

Entah kenapa(ya laper-lah!), waktu itu lagi pingin makan mie ayam Jakarta yang tempatnya pas banget di belakang MIPA, di jalur yang kami lewati untuk bisa sampai ke kost-an Lusi. Udah lama sih gak mampir ke situ lagi, yah kira-kira setahunan lebih. Jadinya, aku gak tau sekarang harga mie di situ berapa setelah naiknya harga BBM dan sembako yang entah udah berapa kali membuat harga makanan di kampus dan sekitarnya-jelas-ikutan nglunjak, ah ngrepotin ‘wong sorrow'(baca: WONG SORO, pake logat Jawa medok) macam aku aja. Tapi kuputuskan untuk PD aja, paling-paling naiknya ya segitu-gitu aja(ini bukan sok santai, tapi emang dasar boros!).

Fifin, setelah tahu tempat tujuanku untuk makan, serta sudah melihat-lihat situasi kondisi di lokasi, jadi ikut tergoda. Dia jadi mau ikutan makan(waduh, maap ya Fin, bikin kamu jadi keluar duit, aku tahu, kamu kan sebenernya hemat, gak boros kayak aku). Ya udah, kubilang pada si Ibu Penjual Mie, “Bu, mienya 2 ya,”. Sipp.

Sambil menunggu mie datang, aku mencoba survei minuman yang ada di situ, kan tadi udah janji mo beliin mimik buat Fifin. Setelah melihat-lihat minuman yang dijual, yang terdiri dari minuman kemasan botol dan gelas, kuputuskan aku gak usah mimik. Entar aja, minta Lusi di kostnya. Ketika kutanya Fifin, ternyata Fifin juga gak kepingin beli mimik apapun. Saat itulah, kami berdua melihat daftar harga yang letaknya memang agak jauh dari jalan kami datang tadi. Hah? Pada bagian paling atas tertulis: mie ayam Rp 6000? Gak salah tuh? Emangnya semewah apa to mienya? Ya udahlah, wis terlanjur. Di bawahnya ada menu spesial, yaitu 1 porsi mie ayam spesial + 1 teh botol =Rp 7500. Kembali ke tempat duduk kami, berdua kami membicarakannya. Wah, gak nyangka naiknya setinggi itu, dan membanding-bandingkannya dengan harga makanan di tempat lain, yang sudah lebih murah, lebih berisi lagi. Memang siy, di tempat ini mienya beda, ada telur puyuhnya. Tapi ya kok semahal itu. Aku cuman bisa berharap semoga mienya ntar banyak, jadi gak rugi.

Mie datang, kami makan. Enak sih emang, apalagi waktu laper gini. Selesai makan, Fifin segera menyiapkan uang pembayaran. Yang bayar aku, jadi uangnya dikasih ke aku. Uang Fifin gede, sementara uang kecilnya kurang 500. Jadinya pinjem dulu, sementara bayar ke aku Rp 5500. Menyiapkan selembar 10 ribuan dan selembar 5 ribuan, dengan jumawa aku menuju ke tampat penjualnya, kali ini si Bapak, karena si Ibu lagi sibuk. “Pak, mie 2,” ujarku sembari menyodorkan uang yang sudah kusiapkan tadi. Eh, saat itu terjadi sesuatu yang serasa petir di siang bolong, “Sembilan ribu”, kata Bapaknya. Jederr!! Cepat tanggap, kusodorkan lembar 10 ribuan kepada si Ibu, yang sementara itu sudah berada di depanku. Entah apa aku salah dengar, setelah beberapa saat sibuk mencari kembalian, Ibunya bilang, “Mbak, punya 500-an?”. Lho kok? Sebenernya berapa to harganya? “Ada, Bu. Bentar, saya ambil,” jawabku. Eh, tiba-tiba si Bapak nyahut, “Mie dua Bu, 9 ribu.” “Oo, mie 2 toh. Saya kira 1,”kata si Ibu polos. Jadilah, ternyata kembaliannya Rp 1000.

Kembali ke tempat Fifin menunggu, aku langsung menjelaskan kalau dia gak perlu pinjem duit, toh ternyata mienya cuman EMPAT RIBU LIMA RATUS RUPIAH, BUKAN ENAM RIBU. Jadinya, berdua cuman habis duit Rp 9000 aja. Syukur alhamdulillah, kami berdua kesenengan, ternyata harganya masih normal, jadi gak terlalu menguras kantonglah.

Begitu keluar dari warung Mie Ayam Jakarta, aku bertanya kepada Fifin, “Fin, apa mataku yang error?”. Fifin bilang, dia juga liatnya Rp 6000 kok. Masak salah kok bareng-bareng, apalagi yang pake kacamata itu kan Fifin, bukan aku, kata Fifin. Lha terus, yang di daftar harga tadi harga apaan? Harga pajangan gitu? Entahlah.

Baru setelah pulang, aku mikir-mikir. Jangan-jangan maksud daftar yang tadi itu, harga setiap menu plus teh botol? Eh, kayaknya iya. Secara, daftar harganya itu tampangnya kayak gini lo:

menu-error1

Nah kan?

Satu hal yang pasti, ada beberapa pelajaran dari pengalaman wiskul kali ini(makan siang gitu aja dibilang wiskul!):

  • Kalo kantong lagi tipis, jangan pesan sembarangan!:D
  • Kalo gak tau atau bingung masalah harga, mending tanya langsung sama yang jual: Malu bertanya bisa berakibat memalukan diri sendiri dan orang sekitar. Malu bertanya tidak lebih malu dibanding makan tapi bayarnya kurang!
  • Teliti sebelum memesan!

Selamat makan…..


Actions

Information

4 responses

10 01 2009
yeni

wew….itu masi normal mbak
kalo di bandung itu sudah sangat murah
disini aja bubur ayam 5ribu
bakso 8500
tekor ya tekor di bandung
salah satu yang bikin aku ga betah di bandung ya ini, makan mahalnya minta ampun (*minta duit maksudnya)
hehehehe

10 01 2009
DataQ

bersyukurlah kalian yang bisa makan halal, enak dan murah. Ane selama tiga bulan ini akan mengalami krisis makanan. Di Fujisawa susah cari makan yang halal, kebanyakan uda ditambahai flavour dari “buta”. Terus harga makanan disini juga fantastis, Ane sekali makan d kantin kampus habis habis 293 yen (anggap aja 1 yen = 108 rupiah).

Tapi insya Allah tidak papa, bisa sekalian diet disini😀

13 01 2009
hmoulinsart

He he he. IDR 6000, JPY 293. Nyaman kali yah idup .. kalo sekali makan cuman EUR 3 .. murah kali yaaak …

15 01 2009
swamp

Brarti di Malang ini emang super murah ya….😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: