Addicted to Weblog

26 03 2009

Sebenernya ini pengalaman adikku. Menjelang ujian akhir, seperti biasa, kegiatan di kelas adalah latihan soal, atau kalau melihat murid-muridnya suntuk, guru pun memberikan waktu santai. Ceritanya pas pelajaran Bahasa Indonesia, guru adikku membagikan majalah Horizon ke murid-muridnya. Maksudnya santai tapi tetep belajar gitu.

Menurut adikku, setelah memperhatikan beberapa saat tiba-tiba gurunya bertanya, “Ada yang membaca cerpen berjudul Addicted to Weblog?”. Adikku yang pas megang Horizon yang dimaksud pun menyahut, “Saya, Bu”. Si Guru yang emang terkenal akrab dengan siswa-siswanya lantas berkata, “Saya merasa senasib dengan tokoh cerita tersebut…”,bla…bla..bla…

Kata adikku siy, cerpen yang keluar tahun 2006 itu berserita tentang seorang ibu muda yang hobi banget blogging. Saking hobinya, setiap kejadian dan pengalaman dalam kesehariannya semuanya dituangkan ke dalam blog. Tidak hanya itu, foto-foto anaknya yang masih imut pun ikut ditampilkan dalam blog. Sayangnya, gara-gara kecanduan blog, si ibu muda jadi lebih memperhatikan isi blog dan tanggapan-tanggapan terhadap tulisannya, sampai-sampai anak dan suami pun lupa diurusi. Si suami yang melihat gelagat buruk tersebut lantas memutuskan sambungan internet di rumah dan lantas melarang istrinya untuk nge-blog lagi. Si istri, dengan terpaksa pun menurut. Baru selesai masalah itu, si suami mendapat teguran dari atasan tempat ia bekerja. Atasannya bertanya, apakah si suami tahu tentang blog X. Si suami pun menjawab bahwa ia tahu, sekaligus memberikan konfirmasi bahwa blog tersebut adalah blog istrinya. Sang antasan lantas mengemukakan bahwa dalam blog tersebut terdapat tulisan yang buruk tentang perusahaan tempat si suami bekerja, dan tulisan tersebut nyatanya mendapat tanggapan dan komentar dari banyak orang. Sang atasan mengatakan bahwa tulisan tersebut telah menjatuhkan reputasi perusahaan. Sang suami yang merasa malu pun menegur istrinya, kok bisa urusan domestik begitu bisa jadi ‘pembicaran umum’, selanjutnya si suami meminta istrinya untuk mengubah tulisan tersebut, menyamarkan nama perusahaan yang dimaksud. Si istri setuju, dengan syarat koneksi internet di rumah disambung lagi. Bagaimanapun, si suami tetap melarang istrinya untuk nge-blog, khawatir apabila segalanya hancur karena kelalaian.

Beberapa tahun berlalu sudah. Si suami kini hidup bersama anak-anaknya yang sudah besar. Istrinya telah tiada karena kanker payudara. Diliputi kerinduan, keluarga itu lantas menemukan kembali blog milik si ibu. Mereka dikisahkan merasa bersyukur karena masih bisa mengenang si ibu melalui tulisan-tulisannya di blog. Bahkan si anak pun ikut meneruskan kegiatan berblogging ria, menyadari sisi positifnya.

Menurut si Ibu Guru, beliau pernah kecanduan blogging sampai (juga) dilarang oleh suami. Meski tidak sampai melalaikan tugas sebagai ibu dan istri, namun suami si Ibu Guru berpendapat kalau kegiatan blogging si Ibu Guru ini banyak mudharatnya gitu. Alasannya, bisa menjerumuskan diri ke arah sombong(kebetulan si Ibu Guru ini suka nge-post foto-foto diri dan keluarga😉 . Apalagi yang berkomentar di blog kebanyakan laki-laki, sementara si Ibu kan perempuan yang sudah menikah dan berkeluarga. Bukannya tidak mungkin kalau nantinya urusan rumah tangga bisa runyam. Jadinya, sudah sekitar setahunan ini si Ibu Guru tak lagi aktif blogging. Nah, gara-gara mbaca cerpen di Horizon tersebut, si Ibu Guru jadi menduga-duga, kira-kira nanti mungkin tidak ya suaminya akan berubah seperti suami Ibu Muda tokoh cerpen tersebut? Lucu juga si Ibu Guru ini, membagi pengalaman kepada murid-muridnya.

Kecanduan?(a QUESTION 4 myself!!!)
Wew…kalo menurut aku siy, memang aku belum sampai-lah ke taraf kecanduan, jangan sampai deh. Yah, sangat disayangkan kalau masih banyak orang yang menganggap blogging itu buang-buang waktu saja. Yang lebih sayang lagi memang kalau sampai gara-gara blogging hidup kita jadi kacau(waduh…), kewajiban jadi terlalaikan, begitu pula orang-orang di sekitar kita, sehingga timbul anggapan bahwa blogging itu negatif. Padahal blogging itu kan cuman cara dan media aja(buat q…blogging itu buat latihan nulis gitu, biar gak males).

Kurasa keputusan suami si ibu Muda maupun si Ibu Guru di atas bukannya tanpa pertimbangan. Ya memang bener, jaman sekarang udah biasa yang namanya nampang foto-foto di Internet. Tapi pertanyaannya, perlukah? Yah, ini ditujukan untuk foto diri, foto keluarga, dan sebagainya yang bersifat private. Di sini kita perlu juga hati-hati supaya nggak terjerumus ke arah takabur/sombong. Yah…kalo mau eksis gak harus narsis kan? Bagi para blogger baik yang juga berprofesi sebagai ibu/istri maupun tidak, eh belum, perlu juga niy kita instrospeksi diri. Blogging itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai kecanduan hingga melalaikan berbagai hal.

Nyatanya, banyak kok blog berkualitas yang ditulis oleh bapak/ibu yang sudah berkeluarga. Coba aja tengok blog Bu Enny yang punya tagline: Kenangan, pengalaman, dan perjalanan hidup seorang ibu.. . Blognya jauh dari kesan narsis, malah berisi tips dan info yang berguna buat banyak orang, misalnya saja tips berkebun, mengatur pengeluaran dan sebagainya. Kalau gini, kan bisa ikut berbagi kebaikan?


Actions

Information

One response

15 05 2009
narpen

Wah.. ada cerita nyatanya..
Iya,, emang jangan sampai lupa dengan yang lain.. makanya klo menurut saya, ga rutin ngeblog jg gpp siy.. kehidupan di luar dunia maya juga sering menyita waktu dan butuh perhatian. Kecuali klo emang blog-nya (misalnya) buat mencari nafkah, atau apa gtu..

Btw, pas lagi baca.. wah ada nama bu enny :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: