KUBAH – Mengingat Nikmatnya Kewajiban

25 11 2009

Judul            : KUBAH
Pengarang    : Ahmad Tohari
Terbit           : Juni 1995
Penerbit       : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Ukuran         : 192 hal, 18 cm.


“Karman, aku tak bisa mengerti mengapa kau meninggalkan nikmat itu, nikmatnya orang yang melaksanakan kewajiban. Apakah kau belum bisa merasakan kepuasan jiwa selagi kau bersujud, sehingga kau menganggap kewajiban itu hanya sebagai pikulan yang menindih pundakmu? Atas nama almarhum ayahmu, aku minta kau kembali seperti semula. Kembali menjadi manusia yang menyadari siapa dirinya; yang tak mempunyai andil sedikit pun atas keberadaanmu di dunia ini. Sujudlah kembali kepada yang lebih berkuasa atas dirimu.”

(Paman Hasyim kepada Karman, hal.95)

–Pengingat bagi kita yang sering lupa nikmatnya ibadah, nikmatnya melaksanakan kewajiban…–

Benar-benar karya yang luar biasa dari Ahmad Tohari. Setelah sebelumnya mengenal Senyum Karyamin dan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, karyanya yang satu inilah yang membuat saya jadi makin kepingin membaca karya-karya Ahmad Tohari yang lain, di antaranya Bekisar Merah, Belantik, Di Kaki Bukit Cibalak, Lingkar Tanah Lingkar Air, Orang-orang Proyek, dan beberapa kumpulan cerpen. Namun tetap, yang paling saya sukai ya Kubah ini (ini yang kedua kalinya saya baca lagi buku ini).

Karya Ahmad Tohari yang dikenal sebagai penulis yang banyak membahas kehidupan wong cilik ini mengisahkan kembalinya Karman, seorang eks-tapol yang baru keluar dari Pulau B di daerah Maluku, ke desanya yang terpencil di Jawa Tengah, Desa Pegaten. Dirundung ketakutan, kekhawatiran, serta juga kehilangan segala miliknya akibat gonjang-ganjing 10 tahun silam, Karman pulang kembali ke desanya, bertemu dengan sanak saudara dan orang-orang yang dikenalnya. Bagaimana kiranya keadaan mereka? Bagaimana kiranya sikap penduduk Pegaten, orang-orang yang telah lama dikenalnya?

Menghadapi masalah ini kita diajak untuk menengok kisah hidup Karman mulai kanak-kanak hingga akhirnya terseret dalam partai komunis, masa penahanan di Pulau B, kemudian kembali ke kampung halamannya sebagai orang yang baru, membawa beban dosa dan penyesalan akan masa lalu. Keseluruhannya dikemas secara apik dan menggugah nurani kita untuk terus mengingat bahwa kita semata-mata adalah sebutir debu di tengah semesta yang luas ini.

Lantas, mengapa judulnya ‘Kubah’? Pertanyaan ini akan terjawab nanti pada bagian akhir, meskipun pada sampul belakang buku diberikan sedikit penjelasan. Tentu saja, lebih baik baca saja buku yang terdiri dari 192 halaman ini. Sebelum menutup tulisan ini, izinkanlah saya sekali lagi mengutip Sangkan-paraning dumadi, kidung Kastagethek, pengembara gethek yang ditemui Karman semasa pelarian setelah terjadinya gonjang-ganjing 1965.

Aku mbiyen ora ana
Saiki dadi ana
Mbesuk maneh ora ana
Padha bali marang rahmatullah


Dulu aku tiada
Kini aku meng-ada
Kelak aku lagi tiada
Kembali ke rahmat ilahi

(hal.152)

Pesan saya, selamat membaca!!!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: