Tempe, oh Tempe

31 03 2010

Nasi putih + tempe goreng = perfect match

Hmm… membayangkannya saja sudah amat menggoda. Sebut saya sederhana: gak masalah buat saya. Kadang-kadang banyak hal sederhana yang membuat kita bahagia kan? Inilah salah satunya. Menu yang terbilang sederhana ini memang jadi pasangan sempurna untuk memulai hari. Saya jadi teringat semasa kecil saya dulu, saya bersama sepupu-sepupu yang sama-sama duduk di meja makan dengan menu favorit nasi putih hangat dan tempe goreng gurih. Nikmatnya… mungkin juga karena makan bersama-sama membuat kita lebih lahap. Kami selalu berlomba siapa yang paling bersih piringnya. Siapa yang menyisakan satu butir nasi saja akan mendapat hukuman: diolok-olok oleh yang lain, hehehe.

Menu nasi putih dan tempe goreng sejak lama telah menjadi salah satu menu favorit saya. Entah karena kenangan masa kecil yang begitu berkesan atau karena memang nasi dan tempenya yang enak dan diolah dengan tepat, saya kurang tahu. Yang jelas, memang Ibu saya selalu menyediakan beras berkualitas baik untuk keluarga (tak harus wangi, karena kami kurang suka beras berbau wangi, tapi yang jelas punel). Mungkin ini sudah bawaan orang Jawa, asalkan berasnya enak, maka makan dengan lauk apapun jadi enak (mungkin…). Bumbu tempe gorengnya juga biasa saja, garam dan bawang putih diulek dan diberi air. Aspek lainnya: tempe Malang memang enak. Saya rasa kalau yang satu ini juga sudah banyak orang yang mengakui. Terasanya ketika harus menginap di kota/daerah lain. Kami sering berlibur di rumah Nenek di Blitar, namun tempe Blitar rasanya berbeda dengan tempe Malang, kurang gurih dan cepat hitam. Begitu juga di daerah lain seperti Surabaya, rasa tempenya sudah berbeda dengan tempe Malang. Mungkin pengaruh jenis kedelainya juga, rata-rata tempe di Malang menggunakan kedelai yang berukuran kecil-kecil dan rasanya memang lebih gurih. Sementara tempe yang biasanya dibeli Ibu saya di Blitar kedelainya berukuran agak besar.

Tidak hanya tempe kedelai Malang yang paling enak, tempe kacangnya pun sejauh saya tahu tak ada yang menyaingi. Hampir seperti tempe kedelainya, tempe kacang Malang menggunakan kacang tanah yang berukuran kecil-kecil. Tempenya padat dan ampasnya pun sedikit. Makanya saya bersyukur juga tinggal di Malang, yang memang terkenal dengan surganya tempe, hehehe… ada gelar baru nih buat Kota Malang.

Terlepas dari rasanya, tempe memang produk asli Nusantara yang patut dibanggakan. Bayangkan saja, tempe bisa kok disejajarkan dengan keju atau yoghurt (yang notabene dua-duanya produk olahan susu), malah ada kelebihannya, yaitu berasal dari sumber nabati yang tentunya mengandung serat. Sudah bukan rahasia lagi kalau nilai gizi tempe tinggi, terlebih mudah dicerna oleh tubuh kita. Jadi tidak salah kalau tempe menghiasi meja makan kita sehari-hari, karena sifat-sifatnya: murah, meriah, berfaedah.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: