telor ceplok kemewahan

30 08 2015

Telor ceplok di keluarga kami itu makanan mewah. Menu yang keluarnya amat sangat jarang, bahkan dibanding ayam. Alasannya ekonomis sebenarnya. Kami keluarga dengan 4 anggota lebih sering menikmati telor dalam bentuk telor bumbu bali atau telor dadar. Untuk telor dadar, cukup 2-3 telor dikocok bersama untuk jadi menu meja makan berempat. Lebih ekonomis jika dibandingkan dengan harus menyediakan satu telor ceplok per orang, haha. Telur bumbu bali juga sama saja, isinya mungkin 3-5 telor sekali masak. Namun karena jatah setiap kali makan adalah ‘sesigar’ atau satu telor dibagi dua per orang, maka telor bumbu bali ini menjadi menu yang long lasting, bisa sampai 2-3 kali waktu makan. Ibuk saia memang jago strategi.
Mengapa lebih sering keluar ayam dari pada telor? Singkat kata, ibu yang aktif di kegiatan sosial kampung selalu punya acara rutin minimal seminggu sekali, pengajian atau arisan. Walhasil setidaknya seminggu sekali dapatlah kita jatah berkat atau nasi kotakan yang menu utamanya umumnya ayam. Ayamnya memang cuman satu potong, tapi karena kami sudah kebiasaan membagi rata makanan maka seringkali satu potong ayam itu dibagi bertiga: saya, adik, bapak. Ibu toh sudah dapat jatah makan di acaranya, kadang kala saja ibu juga ikut menikmati ayam itu. Ya mungkin karena sering ayam yang keluar maka kami juga lambat laun bosan juga. Ujung-ujungnya ayam ditawarkan pada siapa saja yang berminat (saya jarang banget sih ngambil, paling2 ngicip sedikit sudah), atau dibagi buat siapa pun yang mau, atau ya udahlah kasih bapak aja ;P. Telor rebus atau telor bali juga cukup sering nongol di nasi kotakan kan? Tapi telor ceplok? Wah, juarang banget kalo gak bisa dibilang nggak pernah muncul.