Sang Pengunjung (Part 6-end)

5 06 2008

“Leonard!” Saul memanggil, wajahnya masygul tak percaya. Didekatinya tubuh yang jatuh itu, “Leonard?” ia memegang tangan yang basah oleh darah, ketakutan memenuhi dirinya.

“Leonard.” Saul memanggil, sia-sia, tanpa hasil. Leonard Mark tidak bergerak. Kedua matanya terpejam. Dadanya telah berhenti naik-turun. Tubuhnya menjadi dingin.

“Satu-satunya yang tidak ingin kita bunuh…….kita bunuh.” Saul memandangi tubuh yang tak bergerak-gerak lagi itu dengan pedih. Ia mencengkeram kepalanya sendiri, “Carilah sekop. Kuburkan dia,“ Saul berjalan ke mulut gua, “Aku tidak akan melakukan apapun dengan kalian,” Ia keluar dari gua.

Terdengar suara seseorang menggali tanah.

“Kita tidak memerlukan dia, bagaimanapun juga.” kata seseorang keras, terlalu keras.

●●●

“Tidur. Kita akan pergi tidur sekarang. Bagaimanapun juga, kita punya banyak waktu untuk itu. Pergi tidur dan mencoba untuk memimpikan New York dan semua kesenangan.” Saul berkata dalam hati, berbaring di lereng landai di balik sebuah bukit, seperti laki-laki tua yang berjanji untuk bercerita padanya tentang Aristoteles. Ia menutup matanya lelah, darah mengumpul di hidungnya dan mulutnya dan di matanya yang gemetar. Saul bertanya-tanya dalam benaknya,

“Bagaimana dia melakukannya? Bagaimana dia membawa New York ke atas sini dan membuat kami berjalan di dalamnya?”

“Mari mencoba. Seharusnya hal itu tidak terlalu sulit. BERPIKIRLAH! Berpikirlah tentang New York dan Central Park dan kemudian Illinois di musim semi. Bunga-bunga apel dan rerumputan hijau.” Saul menyandarkan kepalanya pada kedua telapak tangannya.

Cara itu tidak berhasil. Itu tidaklah sama. New York telah pergi dan tidak ada yang dapat dilakukannya untuk membawanya kembali. Ia akan bangun setiap pagi dan berjalan di laut mati mencarinya……..dan tidak akan pernah menemukannya.

Dan akhirnya ia berbaring, terlalu lelah untuk berjalan, mencoba untuk menemukan New York di dalam kepalanya, tetapi tidak menemukannya.

Hal terakhir yang didengarnya sebelum ia tidur adalah sekop yang berdiri tegak dan jatuh dan menggali sebuah lubang entah kemana……

Dengan logam yang roboh menakutkan dan kabut emas dan aroma dan warna dan suara…….

New York runtuh, jatuh, dan telah terkubur.

Di kejauhan, Bumi dan bulan berdampingan membentuk sabit menghiasi langit Mars yang tetap merah di malam hari. Selain itu, yang ada hanyalah kesunyian tanpa angin, kesunyian, dan kesunyian.

THE END

Finished on Wednesday, June 14, 2006

9:35 p.m

Free-translated by sWaMp

Modifiying on some translation

Wednesday, April 23, 2008

Modifying again

Thursday, April 24, 2008

Finally, the end of this is the beginning of another works!




Sang Pengunjung (Part 5)

28 05 2008

Hingga dinihari, perdebatan dan kekejaman terus berlangsung. Mark telah membuat sebuah balai sidang berdinding mahogany dan sebuah meja marmer dimana mereka semua duduk mengelilinginya, berjenggot menggelikan, berbau busuk—bau kejahatan, lelaki-lelaki berkeringat dan serakah, dengan mata mengarah ke harta mereka. Mark memimpin ‘sidang’ itu, menjelaskan.

“Cara untuk mengaturnya adalah untuk setiap dari kalian akan mempunyai jam-jam tertentu pada hari-hari tertentu. Aku akan memperlakukan kalian semua sama. Mari kita lihat sekarang……” Mark berbicara, wajahnya keras dan tegas, ujung jari-jari kedua tangannya bertautan.

“Hari Senin, Smith. Selasa, aku akan menerima Peter dan aku akan menyelesaikannya dengan Johnson, Holtzman, dan Jim pada hari Rabu,” lanjutnya.

“Dan untuk Saul, dia dalam masa percobaan hingga terbukti dia dapat menjadi bagian dari kelompok sekali lagi,” wajah Saul tertunduk kecut, kesenduan dan kemuraman memenuhi matanya.

“Hingga saat itu, aku tidak akan melakukan sesuatu pun terhadapnya,” wajah-wajah rakus dan serakah tersenyum licik, menyeringai penuh kepuasan.

“Akhir minggu, aku harus benar-benar sendiri. Jika kalian tidak menurut, aku tidak akan tampil untuk semua. ” Mark mengakhiri keputusannya.

Seorang lelaki dengan mata licik dan wajah kotor, jelas sekali belum bercukur selama beberapa hari berseru,

“Mungkin kami akan MEMBUATmu tampil.”

“Dengar, kita berlima melawan dia seorang. Kita bisa membuat dia melakukan apapun yang kita mau,” lanjutnya.

“Jangan bodoh,” kata Mark bosan dan mencela, wajahnya makin keras menghadapi orang-orang itu.

“Dia memberitahu kita apa yang akan dia lakukan. Mengapa kita tidak memberitahuNYA? Kita lebih besar dari dia, kan?” seru lelaki tadi, hampir berteriak ke arah kumpulan orang-orang.

“Jangan dengarkan dia. Dia sinting. Kalian tahu apa yang akan dilakukannya, bukan?” seru Mark.

“Dia akan menyingkirkan kalian semua- mengawasi kalian dan membunuh kalian satu persatu.”

“Dan yang membuat segalanya menjadi lebih buruk, SALAH SATU DARI KALIAN punya senjata!” Mark menambahkan, menyadarkan mereka akan kenyataan pahit.

“CARILAH! TEMUKAN SATU DI ANTARA KALIAN YANG MEMILIKI SENJATA ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI!” teriak Mark. Wajah-wajah lusuh serakah saling berpandangan, yang satu mencurigai yang lain.

Hal itu memicu mereka untuk saling serang. Dalam waktu sekejap mata, mereka saling bergumul, pukul-memukul. Keadaan menjadi kacau balau. Johnson menjauh, tangannya merogoh sesuatu di balik jaketnya.

“Baiklah kalau begitu. Kau, Smith……” dan Johnson, lelaki licik tadi, mengacungkan senjata ke arah Smith, lelaki lainnya. Senjata meletus, noda merah merembes cepat dari dada Smith membasahi bajunya, wajahnya ketakutan. Letusan terdengar lagi, diikuti letusan ketiga.

“Berhenti!” seru Mark, tangannya terangkat ke udara. New York membubung naik di sekitar mereka dari bebatuan dan gua dan langit. Matahari berseri di menara tinggi. Mesin-mesin menderu; kapal-kapal penarik bergerak ke pelabuhan.

”LIHATLAH, KALIAN ORANG-ORANG BODOH!” teriak Saul. Dan, di pusat kota New York, kebingungan, lelaki-lelaki itu terus melakukan kesalahan karena kebodohan mereka.

Saul berlari mendekat, menyerang Johnson yang kaget dan terpental, berkelahi untuk mengambil senjata. Sebelum Saul sempat meraihnya senjata itu meletus lagi, mengeluarkan asap dari moncongnya.

Mereka berdiri terdiam. Mereka berhenti bergelut. Yang ada hanya kesunyian mencekam. New York tenggelam jatuh ke laut, menciut, menggelembung perlahan seperti tarikan napas yang panjang, dengan tangisan dari logam yang runtuh, rusak dan saat-saat dari masa lalu. Bangunan-bangunan besar miring, bengkok, pecah, luruh, runtuh.

Mark berdiri di antara gedung-gedung, memegangi dadanya dengan kedua tangan. Seperti gedung-gedung yang mengelilinginya……sebuah lingkaran yang rapi berwarna merah merembes ke dadanya. Tanpa kata-kata, ia jatuh.

to be continued…(almost close)-





Sang Pengunjung (Part 4)

21 05 2008

Malam turun memenuhi gua.

“Aku akan melepaskan ikatanmu jika kau berjanji tidak akan melarikan diri,” kata Saul. Mereka berdua duduk di dalam sebuah gua yang terang karena nyala api unggun yang hangat.

“Aku tak dapat menjanjikan itu. Aku adalah agen bebas. Aku tidak dimiliki oleh siapapun,” Leonard bersikeras.

“Tapi kau HARUS dimiliki. Aku tidak dapat membiarkan kau pergi,” Saul berkata muram.

“Semakin banyak kau mengatakan hal seperti itu, semakin aku sendirian. Jika kau melakukan hal yang cerdas, kita mungkin telah menjadi teman,” keluh Leonard, berusaha keras melepaskan ikatan yang mengikat kedua tangannya.

“AKU MINTA MAAF. TAPI AKU TAHU TENTANG MEREKA TERLALU BAIK!” Saul berteriak.

“Apakah kau berbeda? Sangat, “ Leonard mencemooh, sangsi. “Kurasa aku mendengar suara. Pergilah keluar dan lihatlah jika mereka datang,”

Saul berlari. Di mulut gua, mengintai ke tengah kegelapan malam— memenuhi lubang dan selokan-selokan…..

Saul menoleh ke arah api unggun,

“Aku tak melihat apapun….” Ia berteriak, “MARK!” Mark menghilang. Asap api unggun masih mengepul, Saul hanya melihat bayangan dirinya sendiri, dipantulkan nyala api.

“Mark! Mark! Kembalilah!” Saul mencari-cari, melihat sekelilingnya, panik. Ia menoleh, merasa seseorang sedang bersembunyi-mengamatinya. Ia menyadari, ada sebongkah batu besar bundar yang tadinya –-ia merasa yakin—tidak berada disitu. Saul merogoh tasnya. Diambilnya pisaunya, digenggamnya, siap terhujam ke batu besar bundar itu.

“STOP!” jerit Mark. Batu besar bundar telah menghilang, Mark ada disitu sebagai gantinya, wajahnya ketakutan.

“ITU TIDAK BERHASIL.” Saul menodongkan pisaunya mengancam.

“Jika kau membunuhku, akan kau kemanakan mimpimu? Ayo…… bunuh aku, aku menantangmu!” Mark berseru berani.

Tanpa mereka sadar, lelaki-lelaki yang mengejar mereka makin mendekat. Bayang-bayang bergerak ke arah mulut gua. Lelaki-lelaki itu ada disana. Asap api unggun masih mengepul.

“Selamat malam. Silakan masuk, Tuan-tuan,” seru Leonard.

●●●

(still)to be continued…





Sang Pengunjung (Part 3)

9 05 2008

“Kau benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. Ketika New York keluar dari tanah di depan mataku dengan cara seperti itu, aku berpikir aku pastilah sudah sinting,” Saul menjelaskan, memegang cangkir kopinya dengan kedua tangan.

Asap masih mengepul dari api unggun dihadapannya. Di seberangnya, Leonard Mark bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan sekarang, lebih dari segalanya?”

Saul meletakkan cangkirnya. Ia mencoba untuk menggenggam kedua tangannya dengan tenang. Dia membasahi bibirnya. Menatap langit yang berangin lembut, ia menjawab, “Aku ingin berada di teluk kecil dimana aku biasa berenang didalamnya di Mellintown, Illinois ketika aku masih kanak-kanak,“ ia menerawang. Saul jatuh ke pasir, matanya terpejam. Dari waktu ke waktu, tangannya bergerak-gerak, menyentak-nyentak bersemangat. Leonard menghirup kopinya dalam diam.

Saul mulai membuat gerakan-gerakan pelan dengan kedua lengannya, keluar dan kembali lagi, terengah-engah dengan kepalanya kesatu sisi. Kedua lengannya datang dan pergi perlahan dalam udara hangat, mengaduk pasir hangat dibawah tubuhnya yang bergerak perlahan terus-menerus, lagi dan lagi.

“Baiklah,” kata Leonard tiba-tiba. Saul bangkit dan duduk, mengusap wajahnya.

“Aku melihat teluk itu. Aku berlari di tepinya dan melepaskan pakaianku,” katanya masih menerawang, mengusap wajahnya.

“DAN AKU TERJUN KE DALAM DAN BERENANG MENGARUNGI-NYA!” Saul berteriak sambil merentangkan kedua tangannya.

“Aku senang,” sahut Leonard, masih duduk tenang memandangi teman barunya. Saul merogoh-rogoh kantong lusuhnya yang isinya tak seberapa.

“Ini,”serunya ketika menemukan apa yang dicarinya.

”Ini untukmu,” tangannya memegang sekeping benda persegi berwarna coklat seukuran telapak tangannya. Leonard mengamati apa yang dipegang Saul dengan teliti.

“Apa ini? Cokelat?” Leonard mengangkat kedua tangannya kedepan.

“Nonsense. Aku tidak melakukan ini untuk dibayar. Letakkan benda itu kembali ke dalam kantongmu sebelum aku mengubahnya menjadi ular derik dan ia menggigitmu,” ia tersenyum.

Masih memegang cokelatnya, Saul berkata “Terima kasih. Terima kasih. Kau tak tahu betapa nikmatnya air itu tadi,” Ia memasukkan cokelatnya kembali kedalam kantongnya.

“Kopi lagi? Apakah kau mau kop….” perkataan Saul terhenti. Di kejauhan, di ujung cakrawala terlihat titik-titik kecil bergerak. Titik-titik kecil itu mendekat, makin jelas memberikan bentuk sekelompok orang yang berjalan bersama-sama di bawah matahari yang tampak dingin di langit merah.

Mata Saul melebar. Ketakutan terbayang di pupil matanya yang merah.

“Ada apa?” tanya Leonard keheranan.

Lelaki-lelaki yang lain, lelaki-lelaki yang sakit yang lain berjalan sepanjang laut mati itu. Mereka tampaknya berjumlah kira-kira 5-6 orang, namun bisa jadi lebih banyak. Berpakaian sama lusuhnya seperti Saul. Saul merasa dirinya terguncang. Lelaki-lelaki yang lain telah melihat roket melesat. Sekarang mereka datang menyambut munculnya pendatang baru. Saul terpaku, badannya terasa dingin.

“Lihat Mark…..kurasa lebih baik kita menuju ke pegunungan,” Ia berkata, wajahnya memancarkan kepanikan. Mata merahnya menyatakan kecemasan dan ketakutan.

“Mengapa?”tanya Leonard, wajahnya bertanya.

“Kau lihat orang-orang yang datang itu? Sebagian dari mereka GILA!” jelas Saul, panik.

“Benarkah?” Leonard tampak sangsi.

“Ya!” jawab Saul–-cepat dan tegas.

“Mereka tidak terlihat terlalu berbahaya,” Leonard masih berusaha.

“Kau akan terkejut,” sahut Saul, mencengkeram baju Leonard.

“Kau gemetar. Kenapa itu?” Leonard masih juga bersikeras.

“Apakah kau tidak menyadari, mereka akan berkelahi denganmu……… membunuh satu sama lain……membunuhMU demi hak untuk memilikimu? Kita tak punya waktu lagi untuk berdebat! AYOLAH!” Saul berteriak marah, wajahnya ketakutan–-sangat ketakutan.

“Aku akan duduk disini hingga orang-orang itu menunjukkan yang sebenarnya. Kau terlalu possesif. Hidupku adalah milikku,” Leonard tampak enggan. Saul makin tak sabar “Dengarkan aku,” serunya.

Leonard mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi kedepan wajahnya. Dan New York pun muncul kembali dari tanah, dengan warna-warni yang sama seperti tadi. Sebuah bus berjalan mendekat tepat didepan Saul, sorot lampu depannya yang berwarna kuning menyorot wajah Saul.

“Ini semua BOHONG! Demi Tuhan, Jangan Mark! Mereka akan segera sampai! Kau akan terbunuh!” Saul berteriak, berdiri di tengah-tengah jalanan New York di malam hari.

“Biarkan mereka datang. Aku akan membodohi mereka semua,” jawab Leonard tenang, duduk santai di tepi jalanan New York, di bawah papan-papan reklame toko-toko.

“TIDAK!” Saul terhuyung, memejamkan matanya. Berusaha keras menolak keberadaan New York yang begitu nyata. Tangannya mengagapai-gapai sesuatu, akhirnya tangannya mengepal, menghantam rahang Leonard. Darah tersembur keluar dari mulut Leonard.

Ketika New York telah pergi menghilang, yang ada hanyalah keheningan luas laut mati. Saul berdiri menatap tubuh Leonard yang tergeletak pingsan di pasir hangat. Kedua tangannya masih terbentang di sisi-sisi tubuhnya yang terlentang jatuh, kakinya setengah tertekuk. Saul mengangkat tubuh Leonard dengan kedua tangannya, membawanya menjauh.

Lelaki-lelaki tadi makin mendekat ke arahnya. Ia menuju ke perbukitan dengan kargonya yang berharga, dengan New York dan pedesaan hijau dan musim semi yang segar dan teman lama di pelukan kedua lengannya.

Ia tidak berhenti berlari.

●●●

to be continued…–





Sang Pengunjung (Part 2)

29 04 2008

“Jadi inilah Mars.” kata lelaki itu, mengamati sekelilingnya dengan pandangan tertarik.

“HALO! HALO!” teriak Saul bahkan sebelum dia cukup dekat untuk membiarkan lelaki itu mengetahui keberadaannya. Saul bergegas –-hampir berlari—dengan gembira mendekati lelaki itu. Seorang lelaki muda berambut pirang dengan mata sendu namun sikapnya riang.

”Halo. Namaku Leonard Mark.” sahutnya.

“Aku Saul Williams. Bagaimana segala sesuatu di New York?”jawab Saul antusias.

“Seperti ini.” Ia mengangkat dan merentangkan kedua tangannya sebatas bahu.

Dan tiba-tiba, tanpa disangka-sangka New York keluar begitu saja dari gurun, terbuat dari batu dan dipenuhi dengan angin bulan Maret. Neon-neon terpecah dalam warna-warni elektrik. Taksi-taksi berwarna kuning meluncur dalam kegelapan malam. Jembatan-jembatan timbul dan kapal-kapal penarik berlabuh di pelabuhan-pelabuhan tengah malam. Tabir-tabir bermunculan dalam kelap-kelip berirama. Gedung-gedung tinggi dengan papan-papan reklame berwarna-warni tampak jelas dan nyata, senyata karat darah.

“APA YANG TERJADI PADAKU? APA YANG SALAH DENGANKU? AKU MENJADI GILA! HENTIKAN! INI TIDAK MUNGKIN!” teriak histeris Saul dari mulutnya, mencengkeram kedua samping kepalanya. New York begitu nyata, sangat nyata, sehingga ia tak mampu untuk mempercayainya, tidak disini –-di Mars.

”Memang begini.” kata Leonard Mark tenang, senyum sendu terpampang di wajahnya.

Dan dengan tiba-tiba pula-sama seperti datangnya –- menara-menara New York lenyap. Saul berdiri di permukaan laut mati yang kosong, menatap lemah pada pendatang baru yang masih muda.

”Kau yang melakukannya. Kau melakukannya dengan pikiranmu.” Saul masih tampak tak percaya. Dengan tenang Leonard Mark menjawab “Ya.”

Saul memandangnya lekat-lekat tanpa kata-kata. Akan tetapi dia menyadari, daripada terus memandangnya, lebih baik mengatakan sesuatu.

“Oh, tapi aku senang kau ada disini. Kau tidak bisa tahu betapa gembiranya aku!” Saul menjabat tangannya dengan hangat.

●●●

Saat itu senja hari, matahari hampir tenggelam. Mereka melewati sepanjang pagi hari yang hangat dengan bercakap-cakap.

“Dan kemampuanmu?” tanya Saul.

“Itu adalah sesuatu yang kudapatkan sejak lahir. Ibuku saat itu berada di pusat kota London tahun ’57. Aku lahir sepuluh bulan kemudian.“ jelas Leonard Mark.

Diluar tenda Leonard –-tenda dengan warna hijau yang sama seperti milik Saul, tapi jelas tidak tampak kusam— yang telah membongkar barang-barangnya dan menyalakan api diluar tendanya, mereka berdua bercakap-cakap sambil menghangatkan diri menjelang malam yang turun perlahan-lahan.

“Aku tidak tahu bagaimana kau akan menyebutnya. Telepati dan transfer pikiran, kurasa. Aku telah terbiasa melakukan aksi pertunjukan di Bumi. Kebanyakan orang berpikir aku adalah tukang obat. Aku tidak membiarkan setiap orang tahu bahwa aku memang benar-benar asli. Lebih aman untuk tidak membiarkannya beredar terlalu luas,” Leonard menjelaskan kemampuannya yang unik sambil memiringkan sebagian badannya bertumpu pada lengan.

To Be Continued….